<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Komunitascoemie's Weblog</title>
	<atom:link href="http://komunitascoemie.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://komunitascoemie.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 May 2011 06:20:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='komunitascoemie.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Komunitascoemie's Weblog</title>
		<link>http://komunitascoemie.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://komunitascoemie.wordpress.com/osd.xml" title="Komunitascoemie&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://komunitascoemie.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Anda Pengunjung ke :</title>
		<link>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/16/anda-pengunjung-ke/</link>
		<comments>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/16/anda-pengunjung-ke/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2009 22:13:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KOMUNITAS COEMIE</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/16/anda-pengunjung-ke/</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitascoemie.wordpress.com&amp;blog=4020367&amp;post=126&amp;subd=komunitascoemie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://s02.flagcounter.com/more/asCX"><img src="http://s02.flagcounter.com/count/asCX/bg=FFFFFF/txt=000000/border=CCCCCC/columns=2/maxflags=20/viewers=0/labels=0/pageviews=1/" alt="free counters" border="0"></a><img style="visibility:hidden;width:0;height:0;" border="0" width="0" height="0" src="http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bHQ9MTIzMjE*Mzg4NjExMyZwdD*xMjMyMTQzOTcxNzE2JnA9MTQ2NDgxJmQ9Jm49d29yZHByZXNzJmc9MSZ*PSZvPWIxNGUzNmQzMzNiMzQwZmNhNzIwOTc2MTNiODI4M2Vl.gif" /></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/komunitascoemie.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/komunitascoemie.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/komunitascoemie.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/komunitascoemie.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/komunitascoemie.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/komunitascoemie.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/komunitascoemie.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/komunitascoemie.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/komunitascoemie.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/komunitascoemie.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/komunitascoemie.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/komunitascoemie.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/komunitascoemie.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/komunitascoemie.wordpress.com/126/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitascoemie.wordpress.com&amp;blog=4020367&amp;post=126&amp;subd=komunitascoemie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/16/anda-pengunjung-ke/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ad814ae9a5f88ec8e5d323b06cf88e4a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Komunitas Coemie</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s02.flagcounter.com/count/asCX/bg=FFFFFF/txt=000000/border=CCCCCC/columns=2/maxflags=20/viewers=0/labels=0/pageviews=1/" medium="image">
			<media:title type="html">free counters</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bHQ9MTIzMjE*Mzg4NjExMyZwdD*xMjMyMTQzOTcxNzE2JnA9MTQ2NDgxJmQ9Jm49d29yZHByZXNzJmc9MSZ*PSZvPWIxNGUzNmQzMzNiMzQwZmNhNzIwOTc2MTNiODI4M2Vl.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>GUNUNG SUMBING</title>
		<link>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/16/gunung-sumbing/</link>
		<comments>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/16/gunung-sumbing/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2009 13:07:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KOMUNITAS COEMIE</dc:creator>
				<category><![CDATA[Outdoors Activity]]></category>
		<category><![CDATA[GUNUNG SUMBING]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitascoemie.wordpress.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Gunung Sumbing merupakan sebuah gunung yang terdapat di pulau Jawa, Indonesia. Gunung Sumbing mempunyai ketinggian setinggi 3.371 meter. Gunung Sumbing mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung. Sebagian besar wilayah di gunung ini telah digunakan untuk lahan pertanian. Di puncaknya gunung ini mempunyai kawah yang masih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitascoemie.wordpress.com&amp;blog=4020367&amp;post=56&amp;subd=komunitascoemie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-57" title="sumbing1" src="http://komunitascoemie.files.wordpress.com/2009/01/sumbing1.jpg?w=450&#038;h=259" alt="sumbing1" width="450" height="259" /></p>
<p><strong>Gunung Sumbing</strong> merupakan sebuah <a title="Gunung" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung">gunung</a> yang terdapat di pulau <a title="Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa">Jawa</a>, <a title="Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia">Indonesia</a>. Gunung Sumbing mempunyai ketinggian setinggi 3.371 <a title="Meter" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Meter">meter</a>.</p>
<p>Gunung Sumbing mempunyai kawasan <a class="new" title="Hutan Dipterokarp Bukit (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hutan_Dipterokarp_Bukit&amp;action=edit&amp;redlink=1">hutan Dipterokarp Bukit</a>, <a class="new" title="Hutan Dipterokarp Atas (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hutan_Dipterokarp_Atas&amp;action=edit&amp;redlink=1">hutan Dipterokarp Atas</a>, <a class="new" title="Hutan Montane (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hutan_Montane&amp;action=edit&amp;redlink=1">hutan Montane</a>, dan <a class="new" title="Hutan Ericaceous (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hutan_Ericaceous&amp;action=edit&amp;redlink=1">Hutan Ericaceous atau hutan gunung</a>. Sebagian besar wilayah di gunung ini telah digunakan untuk lahan pertanian. Di puncaknya gunung ini mempunyai kawah yang masih aktif.</p>
<p>Perjalanan pendakian gunung ini dapat ditempuh dengan tiga jalur yaitu :</p>
<p>1.      Jalur Dusun Garung (punggung utara)</p>
<p>2.      Jalur Cepit Parakan (punggung timur)</p>
<p>3.      Jalur Kalikajar (punggung barat)</p>
<p><strong>Jalur Dusun Garung</strong><br />
Dari ketiga jalur pendakian, jalur melalui Dusun Garung adalah jalur yang paling banyak diminati oleh para pendaki karena jalur ini telah banyak petunjuk dan keamanan medannya lebih terjamin dan juga waktu tempuh perjalanan dengan menggunakan jalur ini merupakan yang tercepat dibanding dengan dua jalur lainnya.</p>
<p>Dari Dusun Garung pendaki dapat memulai pendakian dengan alternatif dua jalur pendakian yaitu jalur lama dan jalur baru. Tidak ada perbedaan yang khusus mengenai kedua jalur ini hanya arah dan sudut pendakiannya saja yang sedikit berbeda. Jika menggunakan jalur lama maka akan terasa sangat berat karena di sekitar (seduplak roto ) atau kilometer kelima pendakian pendaki akan menemukan medan pendakian yang berkemiringan sekitar 70 derajat, sehingga pada saat turun hujan akan sangat berbahaya untuk didaki. Berbeda dengan jalur baru yang terletak di sebelah barat jalur lama, medan pendakian tidak seberat jalur lama hanya ketika menggunakan jalur ini pendaki akan banyak melewati daerah perbukitan kecil sehingga akan terasa lebih lama.</p>
<p>Relief dari gunung ini mempunyai banyak lembah-lembah di kanan dan kiri itu menyebabkan pendaki harus ekstra hati-hati sewaktu melakukan pendakian karena tidak menutup kemungkinan terjadi kecelakaan dalam proses pendakian, terutama bila pendakian dilakukan pada malam hari atau bila cuaca di sekitar gunung sedang terjadi kabut tebal.</p>
<p><strong>Jalur Cepit Parakan</strong></p>
<p><span style="font-weight:400;">Perjalanan di mulai di Base Camp Cepit yang                    terletak di desa Pager Gunung, kec. Bulu, wilayah Temanggung,                    Jawa Tengah. Perjalanan terbaik dilakukan pada malam hari                    sekitar pukul 21.00, sampai di puncak menjelang pagi, sehingga                    sempat melihat Sunrise dari puncak gunung. Selain itu                    perjalanan di malam hari dapat menghemat air minum, karena di                    sepanjang jalur tidak terdapat mata air.<br />
Pertama kali kita akan berjalan selama kurang lebih satu jam                    melewati kebun sayur penduduk. Kemudian kita akan mendaki                    sekitar dua jam memasuki kawasan hutan, selanjutnya kita akan                    sampai di padang rumput. Setelah itu kita akan bertemu dengan                    Batu Kasur dan Batu Lawang.</p>
<p>Jalur menuju puncak sangat sempit dan menanjak, sehingga                    sangat melelahkan, kita perlu sangat berhati-hati dan menjaga                    stamina tubuh. Puncak Gungung Sumbing berbentuk kaldera kecil                    yang bergaris tengah 800 meter, dengan kedalaman 50-100 m dan                    beberapa puncak yang runcing. Untuk menuju puncak tertinggi                    harus turun lagi ke arah kanan dan kemudian naik lagi.</p>
<p>Terdapat lautan pasir, terdapat juga makam leluhur masyarakat                    setempat yang dikenal dengan sebutan Ki Ageng Makukuhan. Ada                    beberapa gua salah satunya dikenal dengan nama Gua Jugil yang                    merupakan gua terbesar. Di kaldera banyak kawah kecil yang                    berasap belerang.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/komunitascoemie.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/komunitascoemie.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/komunitascoemie.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/komunitascoemie.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/komunitascoemie.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/komunitascoemie.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/komunitascoemie.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/komunitascoemie.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/komunitascoemie.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/komunitascoemie.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/komunitascoemie.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/komunitascoemie.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/komunitascoemie.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/komunitascoemie.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitascoemie.wordpress.com&amp;blog=4020367&amp;post=56&amp;subd=komunitascoemie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/16/gunung-sumbing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ad814ae9a5f88ec8e5d323b06cf88e4a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Komunitas Coemie</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://komunitascoemie.files.wordpress.com/2009/01/sumbing1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sumbing1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GUNUNG SUNDORO</title>
		<link>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/16/gunung-sundoro/</link>
		<comments>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/16/gunung-sundoro/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2009 12:54:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KOMUNITAS COEMIE</dc:creator>
				<category><![CDATA[Outdoors Activity]]></category>
		<category><![CDATA[GUNUNG SUNDORO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitascoemie.wordpress.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Gunung Sundoro atau ada juga yang menyebut Sindoro, merupakan sebuah gunung yang terdapat di pulau Jawa, Indonesia. Gunung Sundoro mempunyai ketinggian setinggi 3,150 meter. JALUR PENDAKIAN : RUTE KLEDUNG Pendakian bisa dimulai dari desa Kledung masuk kecamatan Parakan, sehingga Anda pun harus turun di desa tersebut. Sebaiknya Anda turun di jalan paling tinggi di desa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitascoemie.wordpress.com&amp;blog=4020367&amp;post=53&amp;subd=komunitascoemie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-54" title="sindoro1" src="http://komunitascoemie.files.wordpress.com/2009/01/sindoro1.jpg?w=449&#038;h=242" alt="sindoro1" width="449" height="242" /></p>
<p><strong>Gunung Sundoro</strong> atau ada juga yang menyebut <strong>Sindoro, </strong>merupakan sebuah <a title="Gunung" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung">gunung</a> yang terdapat di pulau <a title="Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa">Jawa</a>, <a title="Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia">Indonesia</a>. <strong>Gunung Sundoro</strong> mempunyai ketinggian setinggi 3,150 <a title="Meter" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Meter">meter</a>.</p>
<p><strong>JALUR PENDAKIAN :</strong></p>
<p>RUTE KLEDUNG<br />
<span style="font-weight:400;">Pendakian bisa dimulai dari                    desa Kledung masuk kecamatan Parakan, sehingga Anda pun harus                    turun di desa tersebut. Sebaiknya Anda turun di jalan paling                    tinggi di desa itu, kemudian mencari rumah kepala desa untuk                    mendapatkan informasi dan mempersiapkan segala perlengkapannya.                    Agar persiapan Anda matang, sebaiknya bermalamlah di desa                    tersebut. Persiapkan peralatan dan perlengkapan termasuk air                    bersih secukupnya. Pasalnya, sepanjang perjalanan ke puncak                    gunung tidak terdapat sumber air yang bersih.</span></p>
<p>Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai puncak sekitar 8 jam                    dengan menempuh jarak 7 km. Untuk turun kembali hanya                    membutuhkan waktu 4 jam. Medan yang ditempuh tidaklah sulit,                    sehingga sangat baik bagi para pendaki pemula, biasanya pada                    hari libur banyak yang mendaki.</p>
<p><span style="font-weight:400;">Pada awal perjalanan, Anda akan                    melewati kebun sayur yang sangat indah. Selanjutnya Anda akan                    menemui hutan pinus dan kebun Edelweis yang menawan.                    Selanjutnya kita akan tiba di Pos I Sibajing, dengan                    ketinggian 1.900 mdpl.</span></p>
<p>Perjalanan diteruskan ke Pos II Cawang, sebelum sampai di pos                    II terdapat persimpangan, kita harus belok ke kanan, jangan                    mengambil jalan lurus karena buntu. Pendaki yang berjalan                    malam hari sering kesasar mengambil jalur lurus. Pos II berada                    pada ketinggian 2.120 mdpl.</p>
<p>Kita kemudian menuju ke Pos III Seroto yang berada pada                    ketinggian 2.530 mdpl, di sini kita akan menyaksikan                    pemandangan yang sangat indah. Perjalanan dilanjutkan dengan                    melewati kawasan hutan dan kawasan batu-batuan. Setelah                    melewati padang Edelweis kita akan sampai di puncak.</p>
<p>RUTE SIGEDANG<br />
<span style="font-weight:400;">Dari kota Yogya naik bus ke                    Magelang, dilanjutkan dengan bus jurusan ke Wonosobo atau                    Dieng turun di Rejosari, dilanjutkan dengan mobil kecil ke                    Sigedang. Dari base camp di Sigedang diperlukan waktu sekitar                    6 jam untuk sampai di puncak.</span></p>
<p>Perjalanan di mulai lewat kebun teh, terdapat tiga buah pos,                    kemudian melewati hutan sekitar 1 jam kita akan sampai di                    padang rumput, dilanjutkan dengan mendaki ke puncak. Rute ini                    lebih pendek agak menanjak dan banyak batu-batuan, namun                    medannya tidak begitu berat.</p>
<p>Di puncak gunung terdapat kawah tua yang sudah mati, di sini                    pada musim hujan pendaki dapat memperoleh air bersih. Puncak                    gunung Sundoro banyak ditumbuhi bunga Edelweis.</p>
<p>Dari puncak gunung kita bisa melihat Gunung Merbabu, Gunung                    Merapi, dan Gunung Lawu di sebelah Timur. Gunung Sumbing                    nampak sangat dekat berada di sebelah selatan. Ke arah barat                    dapat disaksikan Gunung Slamet dan Gunung Ciremei.</p>
<p>RUTE MENUJU GUNUNG SUNDORO<br />
<span style="font-weight:400;"> 1 Menuju Magelang<br />
2 Magelang &#8211; Temanggung<br />
3 Temanggung &#8211; Kledung ( Base Camp)<br />
4 Kledung (Base Camp) &#8211; Watu Gede<br />
5 Watu Gede &#8211; Pos I ( Sibajing )<br />
6 Pos I &#8211; Pos II ( Cawang )<br />
7 Pos II &#8211; Pos III ( Seroto )<br />
8 Pos III &#8211; Puncak </span></p>
<p><span style="font-weight:400;">sumber : merbabu.com</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/komunitascoemie.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/komunitascoemie.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/komunitascoemie.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/komunitascoemie.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/komunitascoemie.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/komunitascoemie.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/komunitascoemie.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/komunitascoemie.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/komunitascoemie.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/komunitascoemie.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/komunitascoemie.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/komunitascoemie.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/komunitascoemie.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/komunitascoemie.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitascoemie.wordpress.com&amp;blog=4020367&amp;post=53&amp;subd=komunitascoemie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/16/gunung-sundoro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ad814ae9a5f88ec8e5d323b06cf88e4a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Komunitas Coemie</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://komunitascoemie.files.wordpress.com/2009/01/sindoro1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sindoro1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GUNUNG SLAMET</title>
		<link>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/16/gunung-slamet/</link>
		<comments>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/16/gunung-slamet/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2009 12:41:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KOMUNITAS COEMIE</dc:creator>
				<category><![CDATA[Outdoors Activity]]></category>
		<category><![CDATA[GUNUNG SLAMET]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitascoemie.wordpress.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Gunung Slamet merupakan sebuah gunung berapi yang terdapat di Pulau Jawa, Indonesia. Gunung Slamet mempunyai ketinggian setinggi 3,432 meter. Gunung ini berada di perbatasan Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah. Di kaki gunung ini terdapat sebuah kawasan wisata bernama Baturraden atau Batur Raden. Kawasan wisata ini biasa dicapai orang dari kota Purwokerto, ibukota [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitascoemie.wordpress.com&amp;blog=4020367&amp;post=49&amp;subd=komunitascoemie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-50" title="slamet2" src="http://komunitascoemie.files.wordpress.com/2009/01/slamet2.jpg?w=450&#038;h=291" alt="slamet2" width="450" height="291" /></p>
<p><strong>Gunung Slamet</strong> merupakan sebuah <a title="Gunung berapi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_berapi">gunung berapi</a> yang terdapat di Pulau <a title="Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa">Jawa</a>, <a title="Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia">Indonesia</a>. <strong>Gunung Slamet</strong> mempunyai ketinggian setinggi 3,432 <a title="Meter" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Meter">meter</a>. Gunung ini berada di perbatasan Kabupaten <a class="mw-redirect" title="Banyumas" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Banyumas">Banyumas</a> dan Kabupaten <a class="mw-redirect" title="Pemalang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemalang">Pemalang</a>, Provinsi <a title="Jawa Tengah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Tengah">Jawa Tengah</a>.</p>
<p>Di kaki <a title="Gunung" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung">gunung</a> ini terdapat sebuah <a class="new" title="Kawasan wisata (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kawasan_wisata&amp;action=edit&amp;redlink=1">kawasan wisata</a> bernama <a class="mw-redirect" title="Baturraden" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Baturraden">Baturraden</a> atau <a class="mw-redirect" title="Baturraden" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Baturraden">Batur Raden</a>. Kawasan wisata ini biasa dicapai orang dari kota <a class="mw-redirect" title="Purwokerto" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Purwokerto">Purwokerto</a>, ibukota Kabupaten Banyumas.</p>
<p>Gunung Slamet merupakan salah satu gunung yang menjadi tujuan ekspedisi para pendaki, baik dari wilayah setempat maupun wilayah lainnya. Gunung ini mempunyai kawasan <a class="new" title="Hutan Dipterokarp Bukit (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hutan_Dipterokarp_Bukit&amp;action=edit&amp;redlink=1">hutan Dipterokarp Bukit</a>, <a class="new" title="Hutan Dipterokarp Atas (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hutan_Dipterokarp_Atas&amp;action=edit&amp;redlink=1">hutan Dipterokarp Atas</a>, <a class="new" title="Hutan Montane (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hutan_Montane&amp;action=edit&amp;redlink=1">hutan Montane</a>, dan <a class="new" title="Hutan Ericaceous (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hutan_Ericaceous&amp;action=edit&amp;redlink=1">Hutan Ericaceous atau hutan gunung</a>.</p>
<p>Gunung Slamet terletak di perbatasan Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, Banyumas, dan Brebes. Dengan posisi geografis 7°14,30&#8242; LS dan 109°12,30&#8242; BT serta ketinggian 3432m dpl, membuatnya merupakan gunung berapi yang tertinggi di daerah <a title="Jawa Tengah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Tengah">Jawa Tengah</a>. Gunung ini mempunyai empat kawah di puncaknya. Gunung yang berada di sebelah utara kota <a class="mw-redirect" title="Purwokerto" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Purwokerto">Purwokerto</a> dan di sebelah barat kota <a class="mw-redirect" title="Purbalingga" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Purbalingga">Purbalingga</a> ini juga mempunyai beberapa sumber air panas.</p>
<p><a id="Nama_Gunung" name="Nama_Gunung"></a></p>
<h2><span class="editsection"></span><span class="mw-headline">Nama Gunung</span></h2>
<p>Dalam buku yang berjudul &#8220;Three Old Sundanese Poems&#8221;, terbitan KITLV Leiden tahun 2006, J. Noorduyn menyebutkan bahwa nama gunung Slamet adalah relatif baru yaitu saat masuknya <a title="Islam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Islam">Islam</a> ke <a title="Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa">Jawa</a>. Dengan merujuk kepada naskah kuno Sunda <a class="mw-redirect" title="Bujangga Manik" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bujangga_Manik">Bujangga Manik</a>, J Noorduyn menuliskan bahwa nama lama dari gunung ini adalah Gunung Agung.</p>
<p><a id="Jalur_pendakian" name="Jalur_pendakian"></a></p>
<h2><span class="mw-headline">Jalur pendakian</span></h2>
<p>Jalur pendakian standar adalah dari <strong>Bambangan</strong>, Desa Kutabawa, Kecamatan <a title="Karangreja, Purbalingga" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Karangreja,_Purbalingga">Karangreja, Purbalingga</a>. Jalur populer lain adalah dari <strong><a class="mw-redirect" title="Baturraden, Banyumas" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Baturraden,_Banyumas">Baturraden</a>.</strong></p>
<p>Pendakian Gunung Slamet dikenal cukup sulit karena hampir di sepanjang rute pendakian tidak ditemukan air, walaupun ada itu juga merupakan genangan air. Kepada pendaki sangat disarankan untuk membawa persediaan air yang cukup dari bawah. Faktor lain adalah kabut. Kabut di Gunung Slamet sangat mudah berubah-ubah dan pekat. Tetapi Jika anda melewati jalur bambangan, mungkin masalah air tidak terlalu sulit. Memang para pendaki harus banyak membawa air dari bawah, tetapi sesampainya di pos v atau tepatnya di pos samhyang rangkah akan terdapat sungai kecil yang letaknya tepat berada di bawah pos v.ada juga jalur pendakian selain rute bambangan,yaitu rute pendakian melewati Dukuhliwung.dari pos 1 sampai pos 5 yaitu puncak,butuh waktu sekitar 8jam.dan ada mata air di pos 2 dan 3. bisa juga melakukan pendakian melalui obyek wisata permandian air panas Guci,rute pendakian melalui guci msh sangat terjal,bahkan belum ada pos-pos peristirahatan.namun pemandangan dirute ini lebih istimewa dibandingkan dengan rute mana pun.pemandangan alam di rute guci masih sangat alami dan masih sangat liar,berkesan jauh dari peradaban manusia.kedua rute ini dapat ditempuh melewati kota Tegal lalu keselatan menuju kota slawi,melewati lebaksiu,yomani dan mulai memasuki dataran tinggi towel.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/komunitascoemie.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/komunitascoemie.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/komunitascoemie.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/komunitascoemie.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/komunitascoemie.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/komunitascoemie.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/komunitascoemie.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/komunitascoemie.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/komunitascoemie.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/komunitascoemie.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/komunitascoemie.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/komunitascoemie.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/komunitascoemie.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/komunitascoemie.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitascoemie.wordpress.com&amp;blog=4020367&amp;post=49&amp;subd=komunitascoemie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/16/gunung-slamet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ad814ae9a5f88ec8e5d323b06cf88e4a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Komunitas Coemie</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://komunitascoemie.files.wordpress.com/2009/01/slamet2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">slamet2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GUNUNG MERBABU</title>
		<link>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/16/gunung-merbabu/</link>
		<comments>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/16/gunung-merbabu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2009 12:22:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KOMUNITAS COEMIE</dc:creator>
				<category><![CDATA[Outdoors Activity]]></category>
		<category><![CDATA[GUNUNG MERBABU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitascoemie.wordpress.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Gunung Merbabu (juga disebut Damalung) adalah gunung api yang bertipe Strato (lihat Gunung Berapi) yang terletak secara geografis pada 7,5° LS dan 110,4° BT. Secara administratif gunung ini berada di wilayah Kabupaten Magelang di lereng sebelah Timur dan Kabupaten Boyolali di lereng sebelah Barat, Propinsi Jawa Tengah. Gunung ini pernah meletus pada tahun 1560 dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitascoemie.wordpress.com&amp;blog=4020367&amp;post=43&amp;subd=komunitascoemie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-44" title="250-merbabu" src="http://komunitascoemie.files.wordpress.com/2009/01/250-merbabu.jpg?w=447&#038;h=434" alt="250-merbabu" width="447" height="434" /></p>
<p><strong>Gunung Merbabu</strong> (juga disebut <strong>Damalung</strong>) adalah gunung api yang bertipe <em>Strato</em> (lihat <a class="mw-redirect" title="Gunung Berapi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Berapi">Gunung Berapi</a>) yang terletak secara geografis pada 7,5° LS dan 110,4° BT. Secara administratif gunung ini berada di wilayah <a title="Kabupaten Magelang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Magelang">Kabupaten Magelang</a> di lereng sebelah Timur dan <a title="Kabupaten Boyolali" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Boyolali">Kabupaten Boyolali</a> di lereng sebelah Barat, Propinsi <a title="Jawa Tengah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Tengah">Jawa Tengah</a>.</p>
<p>Gunung ini pernah meletus pada tahun <a title="1560" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1560">1560</a> dan <a title="1797" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1797">1797</a>. Dilaporkan juga pada tahun <a title="1570" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1570">1570</a> pernah meletus, akan tetapi belum dilakukan konfirmasi dan penelitian lebih lanjut. Puncak gunung Merbabu berada pada ketinggian 3.145 meter di atas permukaan air laut.</p>
<p><strong>JALUR PENDAKIAN :</strong></p>
<p><span style="font-weight:400;"><br />
</span><strong>JALUR KOPENG THEKELAN</strong></p>
<p><span style="font-weight:400;">Apa</span>bila dari<span style="font-weight:400;"> Semarang, Yogya,                    atau Solo. Dilanjutkan dengan bus jurusan Solo-Semarang turun                    di kota Salatiga, dilanjutkan dengan bus kecil ke Kopeng. Dari                    Yogya naik bus ke Magelang, dilanjutkan dengan bus kecil ke                    Kopeng. Dari kopeng terdapat banyak jalur menuju ke Puncak,                    namun lebih baik melewati desa tekelan karena terdapat Pos                    yang dapat memberikan informasi maupun berbagai bantuan yang                    diperlukan. Pos Tekelan dapat ditempuh melalui bumi perkemahan                    Umbul Songo.</span></p>
<p>Di bumi perkemahan Umbul Songo Anda dapat beristirahat                    menunggu malam tiba, karena pendakian akan lebih baik                    dilakukan malam hari tiba dipuncak menjelang matahari terbit.                    Andapun dapat beristirahat di Pos Thekelan yang menyediakan                    tempat untuk tidur, terutama bila tidak membawa tenda. Dapat                    juga berkemah di Pos Pending karena di tiga tempat ini kita                    bisa memperoleh air bersih.</p>
<p>Masyarakat disekitar Merbabu mayoritas beragama Budha sehingga                    akan kita temui beberapa Vihara disekitar Kopeng. Penduduk                    sering melakukan meditasi atau bertapa dan banyak                    tempat-tempat menuju puncak yang dikeramatkan. Pantangan bagi                    pendaki untuk tidak buang air di Watu Gubug dan sekitar Kawah.                    Juga pendaki tidak diperkenankan mengenakan pakaian warna                    merah dan hijau.</p>
<p>Pada tahun baru jawa 1 suro penduduk melakukan upacara                    tradisional di kawah Gn. Merbabu. Pada bulan Sapar penduduk                    Selo (lereng Selatan Merbabu) mengadakan upacara tradisional.                    Anak-anak wanita di desa tekelan dibiarkan berambut gimbal                    untuk melindungi diri dan agar memperoleh keselamatan.                    Perjalanan dari Pos Tekelan yang berada ditengah perkampungan                    penduduk, dimulai dengan melewati kebun penduduk dan hutan                    pinus. Dari sini kita dapat menyaksikan pemandangan yang                    sangat indah ke arah gunung Telomoyo dan Rawa Pening.</p>
<p>Di Pos Pending kita dapat menemukan mata air, juga kita akan                    menemukan sungai kecil (Kali Sowo). Sebelum mencapai Pos I                    kita akan melewati Pereng Putih kita harus berhati-hati karena                    sangat terjal. Kemudian kita melewati sungai kering, dari sini                    pemandangan sangat indah ke bawah melihat kota Salatiga                    terutama di malam hari.</p>
<p>Dari Pos I kita akan melewati hutan campuran menuju Pos II,                    menuju Pos III jalur mulai terbuka dan jalan mulai menanjak                    curam. Kita mendaki gunung Pertapan, hempasan angin yang                    kencang sangat terasa, apalagi berada di tempat terbuka. Kita                    dapat berlindung di Watu Gubug, sebuah batu berlobang yang                    dapat dimasuki 5 orang. Konon merupakan pintu gerbang menuju                    kerajaan makhluk ghaib.</p>
<p>Bila ada badai sebaiknya tidak melanjutkan perjalanan karena                    sangat berbahaya. Mendekati pos empat kita mendaki Gn. Watu                    tulis jalur agak curam dan banyak pasir maupun kerikil kecil                    sehingga licin, angin kencang membawa debu dan pasir sehingga                    harus siap menutup mata bila ada angin kencang. Pos IV yang                    berada di puncak Gn. Watu Tulis dengan ketinggian mencapai                    2.896 mdpl ini, disebut juga Pos Pemancar karena di puncaknya                    terdapat sebuah Pemancar Radio.</p>
<p>Menuju Pos V jalur menurun, pos ini dikelilingi bukit dan                    tebing yang indah. Kita dapat turun menuju kawah Condrodimuko.                    Dan disini terdapat mata air, bedakan antara air minum dan air                    belerang.</p>
<p>Perjalanan dilanjutkan dengan melewati tanjakan yang sangat                    terjal serta jurang disisi kiri dan kanannya. Tanjakan ini                    dinamakan Jembatan Setan. Kemudian kita akan sampai di                    persimpangan, ke kiri menuju Puncak Syarif (Gunung Pregodalem)                    dan ke kanan menuju puncak Kenteng Songo ( Gunung Kenteng                    Songo) yang memanjang.</p>
<p>Dari puncak Kenteng songo kita dapat memandang Gn.Merapi                    dengan puncaknya yang mengepulkan asap setiap saat, nampak                    dekat sekali. Ke arah barat tampak Gn.Sumbing dan Sundoro yang                    kelihatan sangat jelas dan indah, seolah-olah menantang untuk                    di daki. Lebih dekat lagi tampak Gn.Telomoyo dan Gn.Ungaran.                    Dari kejauhan ke arah timur tampak Gn.Lawu dengan puncaknya                    yang memanjang.</p>
<p>Menuju Puncak Kenteng Songo ini jalurnya sangat berbahaya,                    selain sempit hanya berkisar 1 meter lebarnya dengan sisi kiri                    kanan jurang bebatuan tanpa pohon, juga angin sangat kencang                    siap mendorong kita setiap saat. Di puncak ini terdapat batu                    kenteng / lumpang / berlubang dengan jumlah 9 menurut                    penglihatan paranormal.</p>
<p>Menuruni gunung Merbabu lewat jalur menuju Selo menjadi                    pilihan yang menarik. Kita akan melewati padang rumput dan                    hutan edelweis, juga bukit-bukit berbunga yang sangat indah                    dan menyenangkan seperti di film India yang sangat menghibur                    kita sehingga lupa akan segala kelelahan, kedinginan dan rasa                    lapar. Disepanjang jalan kita dapat menyaksikan Gn.Merapi yang                    kelihatan sangat dekat dengan puncak yang selalu mengeluarkan                    Asap.</p>
<p>Kita akan menuruni dan mendaki beberapa gunung kecil yang                    dilapisi rumput hijau tanpa pepohonan untuk berlindung dari                    hempasan angin. Disepanjang jalur tidak terdapat mata air dan                    pos peristirahatan. Kabut dan badai sering muncul dengan                    tiba-tiba, sehingga sangat berbahaya untuk mendirikan tenda.</p>
<p>Jalur menuju Selo ini sangat banyak dan tidak ada rambu                    penunjuk jalan, sehingga sangat membingungkan pendaki. Banyak                    jalur yang sering dilalui penduduk untuk mencari rumput                    dipuncak gunung, sehingga pendaki akan sampai diperkampungan                    penduduk. Sambutan yang sangat ramah dan meriah diberikan oleh                    penduduk Selo bagi setiap pendaki yang baru saja turun                    Gn.Merbabu. Apabila Anda tidak bisa berbahasa jawa ucapkan                    saja terima kasih.</p>
<p>Dari Selo dapat dilanjutkan dengan bus kecil jurusan                    Boyolali-Magelang, bila ingin ke yogya ambil jurusan Magelang,                    dan bila hendak ke Semarang atau Solo ambil jurusan Boyolali.</p>
<p><strong>JALUR WEKAS</strong></p>
<p>Tim Skrekanek yang berjumlah lima orang ( Steve, Sigit, Bowo,                    Hari, Bayu) pertengahan Maret 2005 melakukan pendakian Gunung                    Merbabu melalui Jalur Wekas. Untuk menuju ke Desa Wekas kita                    harus naik mobil Jurusan Kopeng &#8211; Magelang turun di Kaponan,                    yakni sekitar 9 Km dari Kopeng, tepatnya di depan gapura Desa                    Wekas. Dari Kaponan pendaki berjalan kaki melewati jalanan                    berbatu sejauh sekitar 3 Km menuju pos Pendakian.</p>
<p>Jalur ini sangat populer dikalangan para Remaja dan Pecinta                    Alam kota Magelang, karena lebih dekat dan banyak terdapat                    sumber air, sehingga banyak remaja yang suka berkemah di Pos                    II terutama di hari libur. Wekas merupakan desa terakhir                    menuju puncak yang memakan waktu kira-kira 6-7 jam. Jalur                    wekas merupakan jalur pendek sehingga jarang terdapat lintasan                    yang datar membentang. Lintasan pos I cukup lebar dengan                    bebatuan yang mendasarinya. Sepanjang perjalanan akan menemui                    ladang penduduk khas dataran tinggi yang ditanami Bawang,                    Kubis, Wortel, dan Tembakau, juga dapat ditemui ternak kelinci                    yang kotorannya digunakan sebagai pupuk. Rute menuju pos I                    cukup menanjak dengan waktu tempuh 2 jam.</p>
<p>Pos I merupakan sebuah dataran dengan sebuah balai sebagai                    tempat peristirahatan. Di sekitar area ini masih banyak                    terdapat warung dan rumah penduduk. Selepas pos I, perjalanan                    masih melewati ladang penduduk, kemudian masuk hutan pinus.                    Waktu tempuh menuju pos II adalah 2 jam, dengan jalur yang                    terus menanjak curam.</p>
<p>Pos II merupakan sebuah tempat yang terbuka dan datar, yang                    biasa didirikan hingga beberapa puluhan tenda. Pada hari Sabtu,                    Minggu dan hari libur Pos II ini banyak digunakan oleh para                    remaja untuk berkemah. Sehingga pada hari-hari tersebut banyak                    penduduk yang berdagang makanan. Pada area ini terdapat sumber                    air yang di salurkan melalui pipa-pipa besar yang ditampung                    pada sebuah bak.</p>
<p>Dari Pos II terdapat jalur buntu yang menuju ke sebuah sungai                    yang dijadikan sumber air bagi masyarakat sekitar Wekas hingga                    desa-desa di sekitarnya. Jalur ini mengikuti aliran pipa air                    menyusuri tepian jurang yang mengarah ke aliran sungai dibawah                    kawah. Terdapat dua buah aliran sungai yang sangat curam yang                    membentuk air terjun yang bertingkat-tingkat, sehingga menjadi                    suatu pemandangan yang sangat luar biasa dengan latar belakang                    kumpulan puncak &#8211; puncak Gn. Merbabu.</p>
<p>Selepas pos II jalur mulai terbuka hingga bertemu dengan                    persimpangan jalur Kopeng yang berada di atas pos V (Watu                    Tulis), jalur Kopeng. Dari persimpangan ini menuju pos Helipad                    hanya memerlukan waktu tempuh 15 menit. Perjalanan dilanjutkan                    dengan melewati tanjakan yang sangat terjal serta jurang                    disisi kiri dan kanannya. Tanjakan ini dinamakan Jembatan                    Setan. Kemudian kita akan sampai di persimpangan, ke kiri                    menuju Puncak Syarif (Gunung Pregodalem) dan ke kanan menuju                    puncak Kenteng Songo ( Gunung Kenteng Songo) yang memanjang.</p>
<p><strong>JALUR KOPENG CUNTHEL</strong></p>
<p>Tim Skrekanek yang berjumlah lima orang (Maulana, Steve, Iwi,                    Ardy, Sigit) pertengahan September 2004 melakukan pendakian                    Gunung Merbabu berangkat melalui jalur Kopeng &#8211; Cunthel, dan                    turun mengambil jalur Kopeng Thekelan.</p>
<p>Untuk menuju ke desa Cuntel dapat ditempuh dari kota Salatiga                    menggunakan mini bus jurusan Salatiga Magelang turun di areal                    wisata Kopeng, tepatnya di Bumi perkemahan Umbul Songo.                    Perjalanan dimulai dengan berjalan kaki menyusuri Jalan                    setapak berbatu yang agak lebar sejauh 2,5 km, di sebelah kiri                    adalah Bumi Perkemahan Umbul Songo. Setelah melewati Umbul                    Songo berbelok ke arah kiri, di sebelah kiri adalah hutan                    pinus setelah berjalan kira-kira 500 meter di sebelah kiri ada                    jalan setapak ke arah hutan pinus, jalur ini menuju ke desa                    Thekelan.</p>
<p>Untuk menuju ke Desa Cuntel berjalan terus mengikuti jalan                    berbatu hingga ujung. Banyak tanda penunjuk arah baik di                    sekitar desa maupun di jalur pendakian. Di Basecamp Desa                    Cuntel yang berada di tengah perkampungan ini, pendaki dapat                    beristirahat dan mengisi persediaan air. Pendaki juga dapat                    membeli berbagai barang-barang kenangan berupa stiker maupun                    kaos.</p>
<p>Setelah meninggalkan perkampungan, perjalanan dilanjutkan                    dengan melintasi perkebunan penduduk. Jalur sudah mulai                    menanjak mendaki perbukitan yang banyak ditumbuhi pohon pinus.                    Jalan setapak berupa tanah kering yang berdebu terutama di                    musim kemarau, sehingga mengganggu mata dan pernafasan. Untuk                    itu sebaiknya pendaki menggunakan masker pelindung dan                    kacamata.</p>
<p>Setelah berjalan sekitar 30 menit dengan menyusuri bukit yang                    berliku-liku pendaki akan sampai di pos Bayangan I. Di tempat                    ini pendaki dapat berteduh dari sengatan matahari maupun air                    hujan. Dengan melintasi jalur yang masih serupa yakni                    menyusuri jalan berdebu yang diselingi dengan pohon-pohon                    pinus, sekitar 30 menit akan sampai di Pos Bayangan II. Di pos                    ini juga terdapat banguanan beratap untuk beristirahat.</p>
<p>Dari Pos I hingga pos Pemancar jalur mulai terbuka, di kiri                    kanan jalur banyak ditumbuhi alang-alang. Sementara itu                    beberapa pohon pinus masih tumbuh dalam jarak yang berjauhan.</p>
<p>Pos Pemancar atau sering juga di sebut gunung Watu Tulis                    berada di ketinggian 2.896 mdpl. Di puncaknya terdapat stasiun                    pemancar relay. Di Pos ini banyak terdapat batu-batu besar                    sehingga dapat digunakan untuk berlindung dari angin kencang.                    Namun angin kencang kadang datang dari bawah membawa debu-debu                    yang beterbangan. Pendakian di siang hari akan terasa sangat                    panas. Dari lokasi ini pemandangan ke arah bawah sangat indah,                    tampak di kejauhan Gn.Sumbing dan Gn.Sundoro, tampak                    Gn.Ungaran di belakang Gn. Telomoyo.</p>
<p>Jalur selanjutnya berupa turunan menuju Pos Helipad, suasana                    dan pemandangan di sekitar Pos Helipad ini sungguh sangat luar                    biasa. Di sebelah kanan terbentang Gn. Kukusan yang di                    puncaknya berwarna putih seperti muntahan belerang yang telah                    mengering. Di depan mata terbentang kawah yang berwarna                    keputihan. Di sebelah kanan di dekat kawah terdapat sebuah                    mata air, pendaki harus dapat membedakan antara air minum dan                    air belerang.</p>
<p>Perjalanan dilanjutkan dengan melewati tanjakan yang sangat                    terjal serta jurang disisi kiri dan kanannya. Tanjakan ini                    dinamakan Jembatan Setan. Kemudian kita akan sampai di                    persimpangan, ke kiri menuju Puncak Syarif (Gunung Pregodalem)                    dan ke kanan menuju puncak Kenteng Songo ( Gunung Kenteng                    Songo) yang memanjang.</p>
<p>Dari puncak Kenteng songo kita dapat memandang Gn.Merapi                    dengan puncaknya yang mengepulkan asap setiap saat, nampak                    dekat sekali. Ke arah barat tampak Gn.Sumbing dan Sundoro yang                    kelihatan sangat jelas dan indah, seolah-olah menantang untuk                    di daki. Lebih dekat lagi tampak Gn.Telomoyo dan Gn.Ungaran.                    Dari kejauhan ke arah timur tampak Gn.Lawu dengan puncaknya                    yang memanjang.</p>
<p><strong>Jalur Kopeng Thekelan No Rute Jarak Waktu </strong><span style="font-weight:400;"><br />
1 Semarang/Solo &#8211; Salatiga<br />
2 Salatiga &#8211; Kopeng (Umbul Songo) 12 km 2 jam<br />
3 Umbul Songo &#8211; Thekelan (Base Camp) 1 km 30 menit<br />
4 Thekelan &#8211; Pos Pending 1,2 km 1 jam<br />
5 Pos Pending &#8211; Pos I Gumuk 1,5 km 1,5 jam<br />
6 Pos I &#8211; Pos II Lempong Sampan 785 m 1 jam<br />
7 Pos II &#8211; Pos III Watu Gubug (Gunung Pertapan) 724 m 1 jam<br />
8 Pos III &#8211; Pos IV Pemancar (Gunung Watu Tulis) 453 m 45 menit<br />
9 Pos IV &#8211; Pos V ( Helipad ) 630 m 30 menit<br />
10 Pos V &#8211; Persimpangan ( Geger Sapi ) 627 m 45 menit<br />
11 Persimpangan &#8211; Puncak Syarif ( Gn. Pregodalem ) 130 m 15                    menit<br />
12 Persimpangan &#8211; Puncak Gunung Kenteng Songo 443 m 45 menit </span></p>
<p><strong><br />
Jalur Kopeng Cuntel No. Rute Jarak Waktu </strong><br />
<span style="font-weight:400;">1 Umbul Songo Kopeng &#8211; Cuntel                    2,5 Km 45 menit<br />
2 Base Camp Cuntel &#8211; Pos Bayangan 1 1 Km 20 menit<br />
3 Pos Bayangan 1 &#8211; Pos Bayangan 2 1 Km 30 menit<br />
4 Pos Bayangan 2 &#8211; Pos 1 456 m 20 menit<br />
5 Pos 1 &#8211; Pos 2 527 m 30 menit<br />
6 Pos 2 &#8211; Pos III 506 m 30 menit<br />
7 Pos III &#8211; Pemancar 1.389 m 90 menit<br />
8 Pemancar &#8211; Helipad 630 m 30 menit<br />
9 Helipad &#8211; Persimpangan 627 m 45 menit<br />
10 Persimpangan &#8211; Puncak Syarif ( Gn. Pregodalem ) 200 15                    menit<br />
11 Persimpangan &#8211; Puncak Gunung Kenteng Songo 450 30 meni</span>t</p>
<p><strong><br />
Jalur Wekas Rute Waktu</strong><br />
<span style="font-weight:400;">1 Magelang/Kopeng &#8211; Kaponan<br />
2 Kaponan &#8211; Wekas<br />
3 Wekas &#8211; Pos I 2 jam<br />
4 Pos I &#8211; Pos II 2 jam<br />
5 Pos II &#8211; Pos Helipad 2 jam<br />
6 Helipad &#8211; Persimpangan 45 menit<br />
7 Persimpangan &#8211; Puncak Syarif ( Gn. Pregodalem ) 15 menit<br />
8 Persimpangan &#8211; Puncak Gunung Kenteng Songo 30 menit </span></p>
<p><strong> Jalur Selo No Rute Waktu</strong><br />
<span style="font-weight:400;">1 Solo/Semarang/Yogya &#8211;                    Boyolali<br />
2 Boyolali &#8211; Selo (Pasar)<br />
3 Pasar &#8211; Base Camp (Pak Sunarto)<br />
4 Base Camp &#8211; Shelter I (Balong) 1 jam<br />
5 Shelter I &#8211; Shelter II (Pentur) 1,5 jam<br />
6 Shelter II &#8211; Shelter III 1 jam<br />
7 Shelter III &#8211; Shelter IV 1 jam<br />
8 Shelter IV &#8211; Shelter V (Puncak Kenteng Songo) 1 jam</span></p>
<p><span style="font-weight:400;">sumber :                    merbabu.com</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/komunitascoemie.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/komunitascoemie.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/komunitascoemie.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/komunitascoemie.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/komunitascoemie.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/komunitascoemie.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/komunitascoemie.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/komunitascoemie.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/komunitascoemie.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/komunitascoemie.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/komunitascoemie.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/komunitascoemie.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/komunitascoemie.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/komunitascoemie.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitascoemie.wordpress.com&amp;blog=4020367&amp;post=43&amp;subd=komunitascoemie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/16/gunung-merbabu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ad814ae9a5f88ec8e5d323b06cf88e4a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Komunitas Coemie</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://komunitascoemie.files.wordpress.com/2009/01/250-merbabu.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">250-merbabu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GUNUNG LAWU</title>
		<link>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/15/gunung-lawu/</link>
		<comments>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/15/gunung-lawu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 15:35:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KOMUNITAS COEMIE</dc:creator>
				<category><![CDATA[Outdoors Activity]]></category>
		<category><![CDATA[GUNUNG LAWU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitascoemie.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Gunung Lawu (3.265 m) terletak di Pulau Jawa, Indonesia, tepatnya di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Status gunung ini adalah gunung api &#8220;istirahat&#8221; dan telah lama tidak aktif, terlihat dari rapatnya vegetasi serta puncaknya yang tererosi. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara). Gunung Lawu mempunyai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitascoemie.wordpress.com&amp;blog=4020367&amp;post=29&amp;subd=komunitascoemie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-30" title="lawu" src="http://komunitascoemie.files.wordpress.com/2009/01/lawu.jpg?w=450&#038;h=337" alt="lawu" width="450" height="337" /></p>
<p><strong>Gunung Lawu</strong> (3.265 m) terletak di <a title="Pulau Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Jawa">Pulau Jawa</a>, <a title="Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia">Indonesia</a>, tepatnya di perbatasan Provinsi <a title="Jawa Tengah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Tengah">Jawa Tengah</a> dan <a title="Jawa Timur" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur">Jawa Timur</a>. Status gunung ini adalah gunung api &#8220;istirahat&#8221; dan telah lama tidak aktif, terlihat dari rapatnya vegetasi serta puncaknya yang tererosi. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara). Gunung Lawu mempunyai kawasan <a class="new" title="Hutan Dipterokarp Bukit (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hutan_Dipterokarp_Bukit&amp;action=edit&amp;redlink=1">hutan Dipterokarp Bukit</a>, <a class="new" title="Hutan Dipterokarp Atas (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hutan_Dipterokarp_Atas&amp;action=edit&amp;redlink=1">hutan Dipterokarp Atas</a>, <a class="new" title="Hutan Montane (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hutan_Montane&amp;action=edit&amp;redlink=1">hutan Montane</a>, dan <a class="new" title="Hutan Ericaceous (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hutan_Ericaceous&amp;action=edit&amp;redlink=1">hutan Ericaceous</a>.</p>
<p>Gunung Lawu memiliki dua puncak, Puncak Hargo Dalem dan Hargo Dumilah. Yang terakhir ini adalah puncak tertinggi.</p>
<p>Di lereng gunung ini terdapat sejumlah tempat yang populer sebagai tujuan wisata, terutama di daerah Tawangmangu, Cemorosewu, dan Sarangan. Agak ke bawah, di sisi barat terdapat dua komplek percandian dari masa akhir Majapahit: <a title="Candi Sukuh" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Sukuh">Candi Sukuh</a> dan <a class="mw-redirect" title="Candi Cetho" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Cetho">Candi Cetho</a>. Di kaki gunung ini juga terletak komplek pemakaman kerabat <a title="Praja Mangkunagaran" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Praja_Mangkunagaran">Praja Mangkunagaran</a>: <a title="Astana Girilayu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Astana_Girilayu">Astana Girilayu</a> dan <a title="Astana Mangadeg" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Astana_Mangadeg">Astana Mangadeg</a>. Di dekat komplek ini terletak <a title="Astana Giribangun" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Astana_Giribangun">Astana Giribangun</a>, <a class="new" title="Mausoleum (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mausoleum&amp;action=edit&amp;redlink=1">mausoleum</a> untuk keluarga presiden kedua Indonesia, <a class="mw-redirect" title="Suharto" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suharto">Suharto</a>.</p>
<p><a id="Pendakian" name="Pendakian"></a></p>
<h2><span class="editsection"></span><span class="mw-headline">Pendakian</span></h2>
<p>Gunung Lawu sangat populer untuk kegiatan pendakian. Setiap malam 1 <a title="Sura" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sura">Sura</a> banyak orang berziarah dengan mendaki hingga ke puncak. Karena populernya, di puncak gunung bahkan dapat dijumpai pedagang makanan.</p>
<p>Pendakian standar dapat dimulai dari dua tempat (<em>basecamp</em>): Cemorokandang di <a title="Tawangmangu, Karanganyar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tawangmangu,_Karanganyar">Tawangmangu</a>, Jawa Tengah, serta Cemorosewu, di <a title="Sarangan, Plaosan, Magetan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sarangan,_Plaosan,_Magetan">Sarangan</a>, Jawa Timur. Gerbang masuk keduanya terpisah hanya 200m.</p>
<p>Pendakian dari Cemorosewu melalui dua sumber mata air: Sendang (kolam) Panguripan terletak antara Cemorosewu dan Pos 1 dan Sendang Drajat di antara Pos 4 dan Pos 5.</p>
<p>Pendakian melalui Cemorokandang akan melewati 5 selter dengan jalur yang relatif telah tertata dengan baik.</p>
<p>Pendakian melalui cemorosewu akan melewati 5 pos. Jalur melalui Cemorosewu lebih nge-track. Akan tetapi jika kita lewat jalur ini kita akan sampai puncak lebih cepat daripada lewat jalur Cemorokandang. Pendakian melalui Cemorosewu jalannya cukup tertata dengan baik. Jalannya terbuat dari batu-batuan yang sudah ditata.</p>
<p>Jalur dari pos 3 menuju pos 4 berupa tangga yang terbuat dari batu alam. Pos ke4 baru direnovasi,jadi untuk saat ini di pos4 tidak ada bangunan untuk berteduh. Biasanya kita tidak sadar telah sampai di pos 4.</p>
<p>Di dekat pos 4 ini kita bisa melihat telaga Sarangan dari kejahuan. Jalur dari pos 4 ke pos 5 sangat nyaman, tidak nge-track seperti jalur yang menuju pos 4. Di pos2 terdapat watu gedhe yang kami namai watu iris(karena seperti di iris).</p>
<p>Di dekat pintu masuk Cemorosewu terdapat suatu bangunan seperti masjid yang ternyata adalah makam.Untuk mendaki melalui Cemorosewu(bagi pemula) janganlah mendaki di siang hari karena medannya gag nguatin untuk pemula.</p>
<p>Di atas puncak Hargo Dumilah terdapat satu tugu.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-31" title="lawu2" src="http://komunitascoemie.files.wordpress.com/2009/01/lawu2.jpg?w=450&#038;h=259" alt="lawu2" width="450" height="259" /></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/komunitascoemie.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/komunitascoemie.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/komunitascoemie.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/komunitascoemie.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/komunitascoemie.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/komunitascoemie.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/komunitascoemie.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/komunitascoemie.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/komunitascoemie.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/komunitascoemie.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/komunitascoemie.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/komunitascoemie.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/komunitascoemie.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/komunitascoemie.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitascoemie.wordpress.com&amp;blog=4020367&amp;post=29&amp;subd=komunitascoemie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/15/gunung-lawu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ad814ae9a5f88ec8e5d323b06cf88e4a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Komunitas Coemie</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://komunitascoemie.files.wordpress.com/2009/01/lawu.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lawu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://komunitascoemie.files.wordpress.com/2009/01/lawu2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lawu2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GUNUNG BROMO</title>
		<link>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/15/gunung-bromo/</link>
		<comments>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/15/gunung-bromo/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 15:16:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KOMUNITAS COEMIE</dc:creator>
				<category><![CDATA[Outdoors Activity]]></category>
		<category><![CDATA[GUNUNG BROMO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitascoemie.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Gunung Bromo (dari bahasa Sansekerta/Jawa Kuna: Brahma, salah seorang Dewa Utama Hindu), merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur. Sebagai sebuah obyek wisata, Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif. Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut itu berada dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitascoemie.wordpress.com&amp;blog=4020367&amp;post=25&amp;subd=komunitascoemie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="image" title="Gambar Gunung Bromo dari NASA." href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Gunung_bromo_2001189.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-26" title="800px-mtbromo" src="http://komunitascoemie.files.wordpress.com/2009/01/800px-mtbromo.jpg?w=450&#038;h=238" alt="800px-mtbromo" width="450" height="238" /><br />
</a></p>
<p><strong>Gunung Bromo</strong> (dari <a class="mw-redirect" title="Bahasa Sansekerta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sansekerta">bahasa Sansekerta</a>/<a title="Bahasa Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jawa">Jawa Kuna</a>: <em>Brahma</em>, salah seorang Dewa Utama <a class="mw-redirect" title="Hindu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hindu">Hindu</a>), merupakan <a title="Gunung berapi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_berapi">gunung berapi</a> yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di <a title="Jawa Timur" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur">Jawa Timur</a>. Sebagai sebuah obyek wisata, Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif.</p>
<div class="thumb tright">
<div class="thumbinner" style="width:352px;"><a class="image" title="Gambar Gunung Bromo dari NASA." href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Gunung_bromo_2001189.jpg"></a></p>
<div class="thumbcaption"></div>
</div>
</div>
<p>Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut itu berada dalam empat wilayah, yakni <a class="mw-redirect" title="Probolinggo" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Probolinggo">Kabupaten Probolinggo</a>, <a class="mw-redirect" title="Pasuruan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pasuruan">Pasuruan</a>, <a class="mw-redirect" title="Lumajang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lumajang">Lumajang</a>, dan <a class="mw-redirect" title="Malang kabupaten" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Malang_kabupaten">Kabupaten Malang</a>. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi.</p>
<p>Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.</p>
<h2><span class="mw-headline">Bromo sebagai obyek wisata</span></h2>
<p>Perjalanan melalui pintu barat dari arah pasuruan yaitu masuk dari desa Tosari untuk menuju ke pusat obyek wisata ( lautan pasir )terbilang berat karena medan yang harus ditempuh tak bisa dilalui oleh kendaraan roda 4 biasa ini dikarenakan jalan turunan dari penanjakan kearah lautan pasir sangatlah curam, kecuali kita menyewa jip yang disediakan oleh pengelola wisata, jadi wisatawan banyak yang berjalan kaki untuk menuju ke pusat lokasi. Namun apabila kita melalui pintu utara dari arah sebelum masuk probolinggo yaitu pada daerah Tongas, kita akan menuju desa cemoro lawang sebelum turun menuju lautan pasir maka tidaklah terlalu berat dikarenakan turunan dari lerengnya tidaklah terlalu curam sehingga sepeda motor pun dapat melaluinya. Kebanyakan para wisatawan yang ingin mudah mencapai lautan pasir melewati jalur ini. Namun bila anda ingin menyaksikan sunrise yang sering ditampilkan di foto &#8211; foto, yang banyak difoto dari puncak penanjakan maka anda lebih praktis melewati jalur pintu barat.</p>
<p>Namun bila anda mempunyai jiwa petualang maka anda dapat mencoba jalur perjalanan yang jarang dilalui wisatawan. Yaitu melalui kota Malang anda masuk melalui kota kecil tumpang kemudian masuk kota pronojiwo lalu akan melalui cagar alam yang sangat indah dari sini anda akan menjumpai pertigaan jalan dimana kearah selatan akan memasuki ranu pane ( kearah gunung semeru ) dan kearah utara anda memasuki lautan pasir bromo yang berada di punggung gunung bromo sebelah selatan. Pertigaan tersebut bernama Jemplang. Perjalanan diawali dengan menuruni bukit yang kemudian disambut dengan padang rumput yang lama kelamaan berganti menjadi lautan pasir. Jalan ini akan mengitari gunung bromo melewati lautan pasir selama kurang lebih 3 jam. Jalur ini sebenarnya tidak terlalu curam dan dapat dilalui sepeda motor, namun memerlukan jiwa petualang karena jalurnya yang masih jarang dilewati dan tidak ada satupun persinggahan maupun rumah penduduk. Kita akan benar- benar disuguhkan dengan perjalanan yang sangat menantang. Namun anda akan diganjar dengan rahasia Bromo yang lain, yang sangat jarang dilihat wisatawan, yaitu padang ruput sabana dan bunga yang sangat luas berada dibalik Gunung Bromo. Sungguh pemandangan yang berkebalikan pada sisi Utaranya yang gersang dan berdebu. Namun perlu diingat, sebaiknya jangan melalui jalur ini pada malam hari dan atau dalam cuaca yang berkabut. Jalur tidak akan terlihat dalam kondidi seperti ini.</p>
<p>Lautan pasir adalah andalan wisata dari gunung Bromo, di alam pegunungan yang sejuk, kita dapat melihat padang pasir dan rerumputan yang luas. Sedangkan yang paling ditunggu dari gunung bromo adalah sightview ketika matahari terbit dan terbenam karena memang akan kelihatan jelas sekali dan sangat indah. Walaupun perjalanan ke Bromo sangat berdebu, tapi tidak terasa, karena keindahan yang disuguhkan benar-benar luar biasa.</p>
<p>Berlibur menuju bromo dapat dibilang praktis bila anda menyukai tipe traveller dan melalui jalur pintu utara. Anda dapat melakukan kunjungan dalam jangka waktu 12 jam saja. tentunya bila anda memulainya dari kota Surabaya, Malang, Jember dan sekitarnya. Perjalanan dapat dimulai dari jam 12 malam sehingga anda akan sampai sekitar pukul 2 &#8211; 3 pagi. Dimana anda dapat beristirahat dahulu sebelum melihat sunrise. Penjual makanan dan minuman di areal lautan pasir biasanya sudah buka menjelang pukul 3 pagi, sehingga anda sudah bisa bersiap &#8211; siap untuk melakukan pendakian melewati anak tangga puncak bromo yang terkenal itu. nikmatilah pemandangan sampai jam 9 pagi dan anda pun dapat kembali sampai di kota keberangkatan anda sekitar 12 siang. Sebagai catatan, apabila anda melakukan perjalanan diareal lautan pasir ditengah kegelapan malam, sebagai patokan menuju areal parkir sekitar Pura anda dapat melihat patok dari beton yang sengaja diberikan sebagai penunjuk menuju areal pura. Dan apabila anda tersesat jangan panik dan meneruskan perjalanan ( apalagi ditengah kabut tebal ), tunggulah karena biasanya mulai jam 2 &#8211; 3 pagi beberapa penunggang kuda sewaan melintas diarea lautan pasir.</p>
<h2><span class="mw-headline">Bromo sebagai gunung suci</span></h2>
<p>Bagi penduduk Bromo, <a title="Suku Tengger" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Tengger">suku Tengger</a>, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.</p>
<h2><span class="mw-headline">Sejarah letusan</span></h2>
<p>Selama abad ke-20, gunung yang terkenal sebagai tempat <a class="mw-redirect" title="Wisata" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wisata">wisata</a> itu meletus sebanyak tiga kali, dengan interval waktu yang teratur, yaitu 30 tahun. Letusan terbesar terjadi <a title="1974" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1974">1974</a>, sedangkan letusan terakhir terjadi pada <a title="2004" href="http://id.wikipedia.org/wiki/2004">2004</a>.</p>
<p>Sejarah letusan Bromo: <a title="2004" href="http://id.wikipedia.org/wiki/2004">2004</a>, <a title="2001" href="http://id.wikipedia.org/wiki/2001">2001</a>, <a title="1995" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1995">1995</a>, <a title="1984" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1984">1984</a>, <a title="1983" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1983">1983</a>, <a title="1980" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1980">1980</a>, <a title="1972" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1972">1972</a>, <a title="1956" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1956">1956</a>, <a title="1955" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1955">1955</a>, <a title="1950" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1950">1950</a>, <a title="1948" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1948">1948</a>, <a title="1040" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1040">1040</a>, <a title="1939" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1939">1939</a>, <a title="1935" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1935">1935</a>, <a title="1930" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1930">1930</a>, <a title="1929" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1929">1929</a>, <a title="1928" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1928">1928</a>, <a title="1922" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1922">1922</a>, <a title="1921" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1921">1921</a>, <a title="1915" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1915">1915</a>, <a title="1916" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1916">1916</a>, <a title="1910" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1910">1910</a>, <a title="1909" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1909">1909</a>, <a title="1907" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1907">1907</a>, <a title="1908" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1908">1908</a>, <a title="1907" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1907">1907</a>, <a title="1906" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1906">1906</a>, <a title="1907" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1907">1907</a>, <a title="1896" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1896">1896</a>, <a title="1893" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1893">1893</a>, <a title="1890" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1890">1890</a>, <a title="1888" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1888">1888</a>, <a title="1886" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1886">1886</a>, <a title="1887" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1887">1887</a>, <a title="1886" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1886">1886</a>, <a title="1885" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1885">1885</a>, <a title="1886" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1886">1886</a>, <a title="1885" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1885">1885</a>, <a title="1877" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1877">1877</a>, <a title="1867" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1867">1867</a>, <a title="1868" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1868">1868</a>, <a title="1866" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1866">1866</a>, <a title="1865" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1865">1865</a>, <a title="1865" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1865">1865</a>, <a title="1860" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1860">1860</a>, <a title="1859" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1859">1859</a>, <a title="1858" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1858">1858</a>, <a title="1858" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1858">1858</a>, <a title="1857" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1857">1857</a>, <a title="1856" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1856">1856</a>, <a title="1844" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1844">1844</a>, <a title="1843" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1843">1843</a>, <a title="1843" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1843">1843</a>, <a title="1835" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1835">1835</a>, <a title="1830" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1830">1830</a>, <a title="1830" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1830">1830</a>, <a title="1829" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1829">1829</a>, <a title="1825" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1825">1825</a>, <a title="1822" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1822">1822</a>, <a title="1823" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1823">1823</a>, <a title="1820" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1820">1820</a>, <a title="1815" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1815">1815</a>, <a title="1804" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1804">1804</a>, <a title="1775" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1775">1775</a>, dan <a title="1767" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1767">1767</a>.</p>
<p><a class="image" title="Gambar Gunung Bromo dari NASA." href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Gunung_bromo_2001189.jpg"><img class="thumbimage" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/4/48/Gunung_bromo_2001189.jpg/350px-Gunung_bromo_2001189.jpg" border="0" alt="" width="452" height="452" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/komunitascoemie.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/komunitascoemie.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/komunitascoemie.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/komunitascoemie.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/komunitascoemie.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/komunitascoemie.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/komunitascoemie.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/komunitascoemie.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/komunitascoemie.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/komunitascoemie.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/komunitascoemie.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/komunitascoemie.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/komunitascoemie.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/komunitascoemie.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitascoemie.wordpress.com&amp;blog=4020367&amp;post=25&amp;subd=komunitascoemie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/15/gunung-bromo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ad814ae9a5f88ec8e5d323b06cf88e4a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Komunitas Coemie</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://komunitascoemie.files.wordpress.com/2009/01/800px-mtbromo.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">800px-mtbromo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/4/48/Gunung_bromo_2001189.jpg/350px-Gunung_bromo_2001189.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>GUNUNG CEREMAI</title>
		<link>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/15/20/</link>
		<comments>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/15/20/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 14:56:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KOMUNITAS COEMIE</dc:creator>
				<category><![CDATA[Outdoors Activity]]></category>
		<category><![CDATA[GUNUNG CEREMAI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitascoemie.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Gunung Ceremai (seringkali disebut &#8216;Ciremai&#8217;) secara administratif termasuk dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Posisi geografis puncaknya terletak pada 6° 53&#8242; 30&#8243; LS dan 108° 24&#8242; 00&#8243; BT, dengan ketinggian 3.078 m di atas permukaan laut. Gunung ini memiliki kawah ganda. Kawah barat yang beradius 400 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitascoemie.wordpress.com&amp;blog=4020367&amp;post=20&amp;subd=komunitascoemie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-19" title="300px-ciremai_040906_021_resize" src="http://komunitascoemie.files.wordpress.com/2009/01/300px-ciremai_040906_021_resize.jpg?w=428&#038;h=211" alt="300px-ciremai_040906_021_resize" width="428" height="211" /></p>
<p><strong>Gunung Ceremai</strong> (seringkali disebut &#8216;Ciremai&#8217;) secara administratif termasuk dalam wilayah tiga kabupaten, yakni <a title="Kabupaten Cirebon" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Cirebon">Kabupaten Cirebon</a>, <a title="Kabupaten Kuningan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Kuningan">Kabupaten Kuningan</a> dan <a title="Kabupaten Majalengka" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Majalengka">Kabupaten Majalengka</a>, Provinsi <a title="Jawa Barat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Barat">Jawa Barat</a>. <a class="new" title="Posisi geografis (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Posisi_geografis&amp;action=edit&amp;redlink=1">Posisi geografis</a> puncaknya terletak pada 6° 53&#8242; 30&#8243; LS dan 108° 24&#8242; 00&#8243; BT, dengan ketinggian 3.078 m di atas permukaan <a title="Laut" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Laut">laut</a>.</p>
<p>Gunung ini memiliki <a class="mw-redirect" title="Kawah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kawah">kawah</a> ganda. Kawah barat yang beradius 400 m terpotong oleh kawah timur yang beradius 600 m. Pada ketinggian sekitar 2.900 m dpl di lereng selatan terdapat bekas titik letusan yang dinamakan Gowa Walet.</p>
<p>Kini G. Ceremai termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ceremai (TNGC), yang memiliki luas total sekitar 15.000 hektare.</p>
<p>Nama gunung ini berasal dari kata <a class="new" title="Cereme (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Cereme&amp;action=edit&amp;redlink=1">cereme</a> (<em>Phyllanthus acidus</em>, sejenis tumbuhan perdu berbuah kecil dengan rada masam), namun seringkali disebut <strong>Ciremai</strong>, karena kebiasaan di wilayah Pasundan yang banyak menggunakan awalan &#8216;ci-&#8217; untuk penamaan tempat.</p>
<h2><span class="mw-headline">Vulkanologi dan geologi</span></h2>
<p>Gunung Ceremai termasuk gunungapi Kuarter aktif, tipe A (yakni, <a title="Gunung berapi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_berapi">gunungapi</a> magmatik yang masih aktif semenjak tahun 1600), dan berbentuk <a title="Stratovolcano" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Stratovolcano">strato</a>. Gunung ini merupakan gunungapi soliter, yang dipisahkan oleh Zona Sesar Cilacap – Kuningan dari kelompok gunungapi Jawa Barat bagian timur (yakni deretan <a title="Gunung Galunggung" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Galunggung">Gunung Galunggung</a>, <a title="Gunung Guntur" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Guntur">Gunung Guntur</a>, <a class="mw-redirect" title="Papandayan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Papandayan">Gunung Papandayan</a>, <a title="Gunung Patuha" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Patuha">Gunung Patuha</a> hingga <a class="mw-redirect" title="Tangkuban Perahu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tangkuban_Perahu">Gunung Tangkuban Perahu</a>) yang terletak pada Zona Bandung.</p>
<p>Ceremai merupakan gunungapi generasi ketiga. Generasi pertama ialah suatu gunungapi Plistosen yang terletak di sebelah G. Ceremai, sebagai lanjutan vulkanisma Plio-Plistosen di atas batuan Tersier. Vulkanisma generasi kedua adalah Gunung Gegerhalang, yang sebelum runtuh membentuk <a title="Gunung berapi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_berapi">Kaldera</a> Gegerhalang. Dan vulkanisma generasi ketiga pada kala Holosen berupa G. Ceremai yang tumbuh di sisi utara Kaldera Gegerhalang, yang diperkirakan terjadi pada sekitar 7.000 tahun yang lalu (Situmorang 1991).</p>
<p>Letusan G. Ceremai tercatat sejak 1698 dan terakhir kali terjadi tahun 1937 dengan selang waktu istirahat terpendek 3 tahun dan terpanjang 112 tahun. Tiga letusan 1772, 1775 dan 1805 terjadi di kawah pusat tetapi tidak menimbulkan kerusakan yang berarti. Letusan uap belerang serta tembusan <a class="new" title="Fumarola (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Fumarola&amp;action=edit&amp;redlink=1">fumarola</a> baru di dinding kawah pusat terjadi tahun 1917 dan 1924. Pada 24 Juni 1937 – 7 Januari 1938 terjadi letusan freatik di kawah pusat dan celah radial. Sebaran abu mencapai daerah seluas 52,500 km bujursangkar (Kusumadinata, 1971). Pada tahun 1947, 1955 dan 1973 terjadi gempa tektonik yang melanda daerah baratdaya G. Ciremai, yang diduga berkaitan dengan struktur sesar berarah tenggara – barat laut. Kejadian gempa yang merusak sejumlah bangunan di daerah Maja dan Talaga sebelah barat G. Ceremai terjadi tahun 1990 dan tahun 2001. Getarannya terasa hingga Desa Cilimus di timur G. Ceremai.</p>
<p><a id="Jalur_pendakian" name="Jalur_pendakian"></a></p>
<h2><span class="mw-headline">Jalur pendakian</span></h2>
<p>Puncak gunung Ceremai dapat dicapai melalui banyak jalur pendakian. Akan tetapi yang populer dan mudah diakses adalah melalui Desa Palutungan dan Desa Linggarjati di Kab. Kuningan, dan Desa Apuy di Kab. Majalengka. Satu lagi jalur pendakian yang jarang digunakan ialah melalui Desa Padabeunghar di perbatasan Kuningan dengan Majalengka di utara. Di kota Kuningan terdapat kelompok pecinta alam &#8220;<strong>Akar (Aktivitas Anak Rimba</strong>)&#8221; yang dapat membantu menyediakan berbagai informasi dan pemanduan mengenai pendakian Gunung Ceremai.</p>
<p><a id="Keanekaragaman_hayati" name="Keanekaragaman_hayati"></a></p>
<h2><span class="mw-headline">Keanekaragaman hayati</span></h2>
<p><a id="Vegetasi" name="Vegetasi"></a></p>
<h3><span class="mw-headline">Vegetasi</span></h3>
<p><a title="Hutan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hutan">Hutan</a>-hutan yang masih alami di Gunung Ceremai tinggal lagi di bagian atas. Di sebelah bawah, terutama di wilayah yang pada masa lalu dikelola sebagai kawasan <a class="new" title="Hutan produksi (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hutan_produksi&amp;action=edit&amp;redlink=1">hutan produksi</a> Perum Perhutani, hutan-hutan ini telah diubah menjadi hutan pinus (<em>Pinus merkusii</em>), atau <a class="new" title="Semak belukar (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Semak_belukar&amp;action=edit&amp;redlink=1">semak belukar</a>, yang terbentuk akibat kebakaran berulang-ulang dan penggembalaan. Kini, sebagian besar hutan-hutan di bawah ketinggian … m dpl. dikelola dalam bentuk <a title="Wanatani" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wanatani">wanatani</a> (<em>agroforest</em>) oleh masyarakat setempat.</p>
<p>Sebagaimana lazimnya di pegunungan di Jawa, semakin seseorang mendaki ke atas di Gunung Ciremai ini dijumpai berturut-turut tipe-tipe <a class="new" title="Hutan pegunungan bawah (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hutan_pegunungan_bawah&amp;action=edit&amp;redlink=1">hutan pegunungan bawah</a> (<em>submontane forest</em>), <a class="new" title="Hutan pegunungan atas (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hutan_pegunungan_atas&amp;action=edit&amp;redlink=1">hutan pegunungan atas</a> (<em>montane forest</em>) dan <a class="new" title="Hutan subalpin (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hutan_subalpin&amp;action=edit&amp;redlink=1">hutan subalpin</a> (<em>subalpine forest</em>), dan kemudian wilayah-wilayah terbuka tak berpohon di sekitar puncak dan kawah.</p>
<p>Lebih jauh, berdasarkan keadaan iklim mikronya, LIPI (2001) membedakan lingkungan Ciremai atas dataran tinggi basah dan dataran tinggi kering. Sebagai contoh, hutan di wilayah Resort Cigugur (jalur Palutungan, bagian selatan gunung) termasuk beriklim mikro basah, dan di Resort Setianegara (sebelah utara jalur Linggarjati) beriklim mikro kering.</p>
<p>Secara umum, jalur-jalur pendakian Palutungan (di bagian selatan Gunung Ciremai), Apuy (barat), dan Linggarjati (timur) berturut-turut dari bawah ke atas akan melalui lahan-lahan pemukiman, ladang dan kebun milik penduduk, hutan tanaman pinus bercampur dengan ladang garapan dalam wilayah hutan (<a class="new" title="Tumpangsari (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tumpangsari&amp;action=edit&amp;redlink=1">tumpangsari</a>), dan terakhir hutan hujan pegunungan. Sedangkan di jalur Padabeunghar (utara) vegetasi itu ditambah dengan semak belukar yang berasosiasi dengan padang ilalang. Pada keempat jalur pendakian, hutan hujan pegunungannya dapat dibedakan lagi atas tiga tipe yaitu hutan pegunungan bawah, hutan pegunungan atas dan vegetasi subalpin di sekitar kawah. Kecuali vegetasi subalpin yang diduga telah terganggu oleh kebakaran, hutan-hutan hujan pegunungan ini kondisinya masih relatif utuh, hijau dan menampakkan stratifikasi tajuk yang cukup jelas.</p>
<p><a id="Margasatwa" name="Margasatwa"></a></p>
<h3><span class="mw-headline">Margasatwa</span></h3>
<p>Keanekaragaman satwa di Ceremai cukup tinggi. Penelitian kelompok <a class="new" title="Pecinta alam (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pecinta_alam&amp;action=edit&amp;redlink=1">pecinta alam</a> <a class="mw-redirect" title="Lawalata IPB" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lawalata_IPB">Lawalata IPB</a> di bulan April 2005 mendapatkan 12 spesies <a title="Amfibia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amfibia">amfibia</a> (<a class="mw-redirect" title="Kodok" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kodok">kodok dan katak</a>), berbagai jenis <a title="Reptil" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Reptil">reptil</a> seperti <a title="Bunglon" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bunglon">bunglon</a>, <a title="Cecak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cecak">cecak</a>, <a title="Kadal" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kadal">kadal</a> dan <a title="Ular" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ular">ular</a>, lebih dari 95 spesies <a title="Burung" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Burung">burung</a>, dan lebih dari 20 spesies <a class="mw-redirect" title="Mamalia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mamalia">mamalia</a>.</p>
<p>Beberapa jenis satwa itu, di antaranya:</p>
<ul>
<li>
<ul>
<li><a title="Bangkong bertanduk" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bangkong_bertanduk">Bangkong bertanduk</a> (<em>Megophrys montana</em>)</li>
<li><a class="mw-redirect" title="Percil Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Percil_Jawa">Percil Jawa</a> (<em>Microhyla achatina</em>)</li>
<li><a class="new" title="Kongkang Jangkrik (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kongkang_Jangkrik&amp;action=edit&amp;redlink=1">Kongkang Jangkrik</a> (<em>Rana nicobariensis</em>)</li>
<li><a title="Kongkang kolam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kongkang_kolam">Kongkang kolam</a> (<em>Rana chalconota</em>)</li>
<li><a class="new" title="Katak-pohon Emas (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Katak-pohon_Emas&amp;action=edit&amp;redlink=1">Katak-pohon Emas</a> (<em>Philautus aurifasciatus</em>)</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<li><a class="new" title="Bunglon Hutan (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bunglon_Hutan&amp;action=edit&amp;redlink=1">Bunglon Hutan</a> (<em>Gonocephalus chamaeleontinus</em>)</li>
<li><a class="new" title="Cecak Batu (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Cecak_Batu&amp;action=edit&amp;redlink=1">Cecak Batu</a> (<em>Cyrtodactylus</em> sp.)</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<li><a title="Elang Hitam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Elang_Hitam">Elang Hitam</a> (<em>Ictinaetus malayensis</em>)</li>
<li><a class="new" title="Elang Brontok (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Elang_Brontok&amp;action=edit&amp;redlink=1">Elang Brontok</a> (<em>Spizaetus cirrhatus</em>)</li>
<li><a title="Elang Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Elang_Jawa">Elang Jawa</a> (<em>Spizaetus bartelsi</em>)</li>
<li><a class="new" title="Puyuh-gonggong Jawa (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Puyuh-gonggong_Jawa&amp;action=edit&amp;redlink=1">Puyuh-gonggong Jawa</a> (<em>Arborophila javanica</em>)</li>
<li><a class="new" title="Walet Gunung (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Walet_Gunung&amp;action=edit&amp;redlink=1">Walet Gunung</a> (<em>Collocalia vulcanorum</em>) [masih perlu dikonfirmasi]</li>
<li><a class="new" title="Takur Bultok (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Takur_Bultok&amp;action=edit&amp;redlink=1">Takur Bultok</a> (<em>Megalaima lineata</em>)</li>
<li><a class="new" title="Takur Tulung-tumpuk (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Takur_Tulung-tumpuk&amp;action=edit&amp;redlink=1">Takur Tulung-tumpuk</a> (<em>Megalaima javensis</em>)</li>
<li><a class="new" title="Berencet Kerdil (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berencet_Kerdil&amp;action=edit&amp;redlink=1">Berencet Kerdil</a> (<em>Pnoepyga pusilla</em>)</li>
<li><a class="new" title="Anis Gunung (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Anis_Gunung&amp;action=edit&amp;redlink=1">Anis Gunung</a> (<em>Turdus poliochepalus</em>)</li>
<li><a class="new" title="Tesia Jawa (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tesia_Jawa&amp;action=edit&amp;redlink=1">Tesia Jawa</a> (<em>Tesia superciliaris</em>)</li>
<li><a class="new" title="Ceret Gunung (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ceret_Gunung&amp;action=edit&amp;redlink=1">Ceret Gunung</a> (<em>Cettia vulcania</em>)</li>
<li><a class="new" title="Kipasan Ekor-merah (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kipasan_Ekor-merah&amp;action=edit&amp;redlink=1">Kipasan Ekor-merah</a> (<em>Rhipidura phoenicura</em>)</li>
<li><a class="new" title="Burung-madu Gunung (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Burung-madu_Gunung&amp;action=edit&amp;redlink=1">Burung-madu Gunung</a> (<em>Aethopyga eximia</em>)</li>
<li><a class="new" title="Burung-madu Jawa (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Burung-madu_Jawa&amp;action=edit&amp;redlink=1">Burung-madu Jawa</a> (<em>Aethopyga mystacalis</em>)</li>
<li><a class="new" title="Kacamata Gunung (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kacamata_Gunung&amp;action=edit&amp;redlink=1">Kacamata Gunung</a> (<em>Zosterops montanus</em>)</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<li><a class="new" title="Tenggiling (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tenggiling&amp;action=edit&amp;redlink=1">Tenggiling</a> (<em>Manis javanica</em>)</li>
<li><a title="Tupai kekes" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tupai_kekes">Tupai kekes</a> (<em>Tupaia javanica</em>)</li>
<li><a title="Kukang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kukang">Kukang</a> (<em>Nycticebus coucang</em>)</li>
<li><a class="new" title="Lutung Surili (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Lutung_Surili&amp;action=edit&amp;redlink=1">Lutung Surili</a> (<em>Presbytis comata</em>)</li>
<li><a title="Lutung Budeng" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lutung_Budeng">Lutung Budeng</a> (<em>Trachypithecus auratus</em>)</li>
<li><a title="Ajag" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ajag">Ajag</a> (<em>Cuon alpinus</em>)</li>
<li><a class="new" title="Teledu Sigung (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Teledu_Sigung&amp;action=edit&amp;redlink=1">Teledu Sigung</a> (<em>Mydaus javanensis</em>)</li>
<li><a class="new" title="Kucing Hutan (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kucing_Hutan&amp;action=edit&amp;redlink=1">Kucing Hutan</a> (<em>Prionailurus bengalensis</em>)</li>
<li><a title="Macan Tutul" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Macan_Tutul">Macan Tutul</a> (<em>Panthera pardus</em>)</li>
<li><a title="Kancil" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kancil">Kancil</a> (<em>Tragulus javanicus</em>)</li>
<li><a title="Kijang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kijang">Kijang</a> (<em>Muntiacus muntjak</em>)</li>
<li><a class="new" title="Jelarang Hitam (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Jelarang_Hitam&amp;action=edit&amp;redlink=1">Jelarang Hitam</a> (<em>Ratufa bicolor</em>)</li>
<li><a class="new" title="Landak Jawa (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Landak_Jawa&amp;action=edit&amp;redlink=1">Landak Jawa</a> (<em>Hystrix javanica</em>)</li>
</ul>
</li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/komunitascoemie.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/komunitascoemie.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/komunitascoemie.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/komunitascoemie.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/komunitascoemie.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/komunitascoemie.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/komunitascoemie.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/komunitascoemie.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/komunitascoemie.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/komunitascoemie.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/komunitascoemie.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/komunitascoemie.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/komunitascoemie.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/komunitascoemie.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitascoemie.wordpress.com&amp;blog=4020367&amp;post=20&amp;subd=komunitascoemie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/15/20/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ad814ae9a5f88ec8e5d323b06cf88e4a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Komunitas Coemie</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://komunitascoemie.files.wordpress.com/2009/01/300px-ciremai_040906_021_resize.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">300px-ciremai_040906_021_resize</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GUNUNG SALAK</title>
		<link>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/15/gunung-salak/</link>
		<comments>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/15/gunung-salak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 14:48:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KOMUNITAS COEMIE</dc:creator>
				<category><![CDATA[Outdoors Activity]]></category>
		<category><![CDATA[GUNUNG SALAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitascoemie.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Gunung Salak merupakan sebuah gunung berapi yang terdapat di pulau Jawa, Indonesia. Gunung ini mempunyai beberapa puncak, di antaranya Puncak Salak I dan Salak II. Letak geografis puncak gunung ini ialah pada 6°43&#8242; LS dan 106°44&#8242; BT. Tinggi puncak Salak I 2.211 m dan Salak II 2.180 m dpl. Ada satu puncak lagi bernama Puncak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitascoemie.wordpress.com&amp;blog=4020367&amp;post=15&amp;subd=komunitascoemie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-16" title="400px-salak_050408_012_bblk_resize" src="http://komunitascoemie.files.wordpress.com/2009/01/400px-salak_050408_012_bblk_resize.jpg?w=400&#038;h=223" alt="400px-salak_050408_012_bblk_resize" width="400" height="223" /></p>
<p><strong>Gunung Salak</strong> merupakan sebuah <a title="Gunung berapi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_berapi">gunung berapi</a> yang terdapat di pulau <a title="Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa">Jawa</a>, <a title="Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia">Indonesia</a>. <a title="Gunung" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung">Gunung</a> ini mempunyai beberapa puncak, di antaranya Puncak Salak I dan Salak II. Letak geografis puncak gunung ini ialah pada 6°43&#8242; LS dan 106°44&#8242; BT. Tinggi puncak Salak I 2.211 m dan Salak II 2.180 m dpl. Ada satu puncak lagi bernama Puncak Sumbul dengan ketinggian 1.926 m dpl.</p>
<p>Secara administratif, G. Salak termasuk dalam wilayah <a title="Kabupaten Sukabumi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Sukabumi">Kabupaten Sukabumi</a> dan <a title="Kabupaten Bogor" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Bogor">Kabupaten Bogor</a>, <a title="Jawa Barat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Barat">Jawa Barat</a>. Pengelolaan kawasan hutannya semula berada di bawah <a class="mw-redirect" title="Perum Perhutani" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perum_Perhutani">Perum Perhutani</a> KPH Bogor, namun sejak 2003 menjadi wilayah perluasan Taman Nasional Gunung Halimun, kini bernama <a class="mw-redirect" title="Taman Nasional Gunung Halimun-Salak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Nasional_Gunung_Halimun-Salak">Taman Nasional Gunung Halimun-Salak</a>.</p>
<h2><span class="mw-headline">Vulkanologi dan geologi</span></h2>
<p>Gunung Salak merupakan gunung api strato tipe A. Semenjak tahun 1600-an tercatat terjadi beberapa kali letusan, di antaranya rangkaian letusan antara 1668-1699, 1780, 1902-1903, dan 1935. Letusan terakhir terjadi pada tahun 1938, berupa <a class="new" title="Erupsi freatik (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Erupsi_freatik&amp;action=edit&amp;redlink=1">erupsi freatik</a> yang terjadi di Kawah Cikuluwung Putri.</p>
<p>Menurut Hartman (1938) G. Salak I merupakan bagian gunung yang paling tua. Disusul oleh G. Salak II dan kemudian muncul G. Sumbul. Sedangkan Kawah Ratu diperkirakan merupakan produk akhir dari G. Salak. Kawah Cikuluwung Putri dan Kawah Hirup masih merupakan bagian dari Kawah Ratu.</p>
<p><a id="Jalur_pendakian" name="Jalur_pendakian"></a></p>
<h2><span class="mw-headline">Jalur pendakian</span></h2>
<p>Gunung Salak dapat didaki dari beberapa jalur pendakian. Puncak yang paling sering didaki adalah puncak II dan I. Jalur yang paling ramai adalah melalui Curug Nangka, di sebelah utara gunung. Melalui jalur ini, orang akan sampai pada puncak Salak II.</p>
<p>Puncak Salak I biasanya didaki dari arah timur, yakni Cimelati dekat Cicurug. Salak I bisa juga dicapai dari Salak II, dan dengan banyak kesulitan, dari Sukamantri, Ciapus.</p>
<p>Jalur lain adalah ‘jalan belakang’ lewat Cidahu, Sukabumi, atau dari Kawah Ratu dekat G. Bunder.</p>
<p>Selain itu Gunung Salak lebih populer sebagai ajang tempat pendidikan bagi klub-klub <a class="new" title="Pecinta alam (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pecinta_alam&amp;action=edit&amp;redlink=1">pecinta alam</a>, terutama sekali daerah punggungan Salak II. Ini dikarenakan medan hutannya yang rapat dan juga jarang pendaki yang mengunjungi gunung ini. Juga memiliki jalur yang cukup sulit bagi para pendaki pemula dikarenakan jalur yang dilewati jarang kita temukan cadangan air kecuali di Pos I jalur pendakian Kawah Ratu, beruntung di puncak Gunung ( 2211 Mdpl ) ditemukan kubangan mata air.Gunung Salak meskipun tergolong sebagai gunung yang rendah, akan tetapi memiliki keunikan tersendiri baik karakteristik hutannya maupun medannya.</p>
<p><a id="Tutupan_hutan" name="Tutupan_hutan"></a></p>
<h2><span class="mw-headline">Tutupan hutan</span></h2>
<p><a title="Hutan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hutan">Hutan</a>-hutan di Gunung Salak terdiri dari <a class="new" title="Hutan pegunungan bawah (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hutan_pegunungan_bawah&amp;action=edit&amp;redlink=1">hutan pegunungan bawah</a> (<em>submontane forest</em>) dan <a class="new" title="Hutan pegunungan atas (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hutan_pegunungan_atas&amp;action=edit&amp;redlink=1">hutan pegunungan atas</a> (<em>montane forest</em>).</p>
<p>Bagian bawah kawasan hutan, semula merupakan hutan produksi yang ditanami Perum Perhutani. Beberapa jenis <a title="Pohon" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pohon">pohon</a> yang ditanam di sini adalah <a title="Tusam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tusam">tusam</a> (<em>Pinus merkusii</em>) dan <a class="new" title="Rasamala (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Rasamala&amp;action=edit&amp;redlink=1">rasamala</a> (<em>Altingia excelsa</em>). Kemudian, sebagaimana umumnya hutan pegunungan bawah di <a title="Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa">Jawa</a>, terdapat pula jenis-jenis pohon <a class="mw-redirect" title="Puspa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Puspa">puspa</a> (<em>Schima wallichii</em>), <a class="new" title="Saninten (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Saninten&amp;action=edit&amp;redlink=1">saninten</a> (<em>Castanopsis</em> sp.), <a class="new" title="Pasang (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pasang&amp;action=edit&amp;redlink=1">pasang</a> (<em>Lithocarpus</em> sp.) dan aneka jenis huru (suku Lauraceae).</p>
<p>Di hutan ini, pada beberapa lokasi, terutama di arah <a title="Cidahu, Sukabumi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cidahu,_Sukabumi">Cidahu, Sukabumi</a>, ditemukan pula jenis tumbuhan langka <a class="new" title="Raflesia (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Raflesia&amp;action=edit&amp;redlink=1">raflesia</a> (<em>Rafflesia rochussenii</em>) yang menyebar terbatas sampai <a title="Gunung Gede" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Gede">Gunung Gede</a> dan <a title="Gunung Pangrango" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Pangrango">Gunung Pangrango</a> di dekatnya.</p>
<p>Pada daerah-daerah perbatasan dengan hutan, atau di dekat-dekat sungai, orang menanam jenis-jenis <a class="new" title="Kaliandra merah (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kaliandra_merah&amp;action=edit&amp;redlink=1">kaliandra merah</a> (<em>Calliandra calothyrsus</em>), <a class="new" title="Dadap cangkring (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Dadap_cangkring&amp;action=edit&amp;redlink=1">dadap cangkring</a> (<em>Erythrina variegata</em>), <a class="new" title="Kayu afrika (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kayu_afrika&amp;action=edit&amp;redlink=1">kayu afrika</a> (<em>Maesopsis eminii</em>), <a class="mw-redirect" title="Jeunjing" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jeunjing">jeunjing</a> (<em>Paraserianthes falcataria</em>) dan berbagai macam <a title="Bambu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bambu">bambu</a>.</p>
<p><a id="Margasatwa" name="Margasatwa"></a></p>
<h2><span class="mw-headline">Margasatwa</span></h2>
<p>Aneka margasatwa ditemukan di lingkungan G. Salak, mulai dari <a title="Kodok dan katak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kodok_dan_katak">kodok dan katak</a>, <a title="Reptil" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Reptil">reptil</a>, <a title="Burung" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Burung">burung</a> hingga <a class="mw-redirect" title="Mamalia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mamalia">mamalia</a>.</p>
<p>Hasil penelitian D.M. Nasir (2003) dari Jurusan KSH Fakultas Kehutanan IPB, mendapatkan 11 jenis kodok dan katak di lingkungan S. Ciapus Leutik, Desa Tamansari, Kab. Bogor. Jenis-jenis itu ialah <a title="Bangkong sungai" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bangkong_sungai"><em>Bufo asper</em></a>, <a title="Bangkong kolong" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bangkong_kolong"><em>B. melanostictus</em></a>, <a title="Bangkong serasah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bangkong_serasah"><em>Leptobrachium hasseltii</em></a>, <a title="Kodok tegalan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kodok_tegalan"><em>Fejervarya limnocharis</em></a>, <a title="Kongkang jeram" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kongkang_jeram"><em>Huia masonii</em></a>, <a title="Bangkong tuli" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bangkong_tuli"><em>Limnonectes kuhlii</em></a>, <a title="Kodok batu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kodok_batu"><em>L. macrodon</em></a>, <em>L. microdiscus</em>, <a title="Kongkang kolam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kongkang_kolam"><em>Rana chalconota</em></a>, <a title="Kongkang gading" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kongkang_gading"><em>R. erythraea</em></a> dan <a title="Kongkang racun" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kongkang_racun"><em>R. hosii</em></a>. Hasil ini belum mencakup jenis-jenis katak pohon, dan jenis-jenis katak pegunungan lainnya yang masih mungkin dijumpai. Di Cidahu juga tercatat adanya jenis <a title="Bangkong bertanduk" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bangkong_bertanduk">bangkong bertanduk</a> (<em>Megophrys montana</em>) dan <a class="new" title="Katak terbang (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Katak_terbang&amp;action=edit&amp;redlink=1">katak terbang</a> (<em>Rhacophorus reinwardtii</em>).</p>
<p>Berbagai jenis reptil, terutama <a title="Kadal" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kadal">kadal</a> dan <a title="Ular" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ular">ular</a>, terdapat di gunung ini. Beberapa contohnya adalah <a title="Bunglon" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bunglon">bunglon</a> <a title="Bunglon" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bunglon#Bunglon_surai"><em>Bronchocela jubata</em></a> dan <em>B. cristatella</em>, <a title="Kadal kebun" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kadal_kebun">kadal kebun</a> <em>Mabuya multifasciata</em> dan <a title="Biawak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Biawak">biawak sungai</a> <em>Varanus salvator</em>. Jenis-jenis ular di G. Salak belum banyak diketahui, namun beberapa di antaranya tercatat mulai dari <a class="new" title="Ular tangkai (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ular_tangkai&amp;action=edit&amp;redlink=1">ular tangkai</a> (<em>Calamaria</em> sp.) yang kecil pemalu, <a title="Ular siput" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ular_siput">ular siput</a> (<em>Pareas carinatus</em>) hingga <a title="Ular sanca kembang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ular_sanca_kembang">ular sanca kembang</a> (<em>Python reticulatus</em>) sepanjang beberapa meter.</p>
<p>G. Salak telah dikenal lama sebelumnya sebagai daerah yang kaya burung, sebagaimana dicatat oleh Vorderman (1885). Hoogerwerf (1948) mendapatkan tidak kurang dari 232 jenis burung di gunung ini (total Jawa: 494 jenis, 368 jenis penetap). Beberapa jenis yang cukup penting dari gunung ini ialah <a class="new" title="Elang jawa (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Elang_jawa&amp;action=edit&amp;redlink=1">elang jawa</a> (<em>Spizaetus bartelsi</em>) dan beberapa jenis elang lain, <a class="mw-redirect" title="Ayam-hutan merah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ayam-hutan_merah">ayam-hutan merah</a> (<em>Gallus gallus</em>), <em>Cuculus micropterus</em>, <em>Phaenicophaeus javanicus</em> dan <em>P. curvirostris</em>, <em>Sasia abnormis</em>, <em>Dicrurus remifer</em>, <em>Cissa thalassina</em>, <em>Crypsirina temia</em>, <a class="new" title="Burung kuda (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Burung_kuda&amp;action=edit&amp;redlink=1">burung kuda</a> <em>Garrulax rufifrons</em>, <em>Hypothymis azurea</em>, <em>Aethopyga eximia</em> dan <em>A. mystacalis</em>, serta <em>Lophozosterops javanica</em>.</p>
<p>Sebagaimana halnya reptil dan kodok, catatan mengenai mamalia G. Salak pun tidak terlalu banyak. Akan tetapi di gunung ini jelas ditemukan beberapa jenis penting seperti <a class="mw-redirect" title="Macan tutul" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Macan_tutul">macan tutul</a> (<em>Panthera pardus</em>), <a class="new" title="Owa jawa (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Owa_jawa&amp;action=edit&amp;redlink=1">owa jawa</a> (<em>Hylobates moloch</em>), <a class="new" title="Lutung surili (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Lutung_surili&amp;action=edit&amp;redlink=1">lutung surili</a> (<em>Presbytis comata</em>) dan <a class="new" title="Tenggiling (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tenggiling&amp;action=edit&amp;redlink=1">tenggiling</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/komunitascoemie.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/komunitascoemie.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/komunitascoemie.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/komunitascoemie.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/komunitascoemie.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/komunitascoemie.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/komunitascoemie.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/komunitascoemie.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/komunitascoemie.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/komunitascoemie.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/komunitascoemie.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/komunitascoemie.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/komunitascoemie.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/komunitascoemie.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitascoemie.wordpress.com&amp;blog=4020367&amp;post=15&amp;subd=komunitascoemie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitascoemie.wordpress.com/2009/01/15/gunung-salak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ad814ae9a5f88ec8e5d323b06cf88e4a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Komunitas Coemie</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://komunitascoemie.files.wordpress.com/2009/01/400px-salak_050408_012_bblk_resize.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">400px-salak_050408_012_bblk_resize</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEY LOGGER</title>
		<link>http://komunitascoemie.wordpress.com/2008/06/19/ngembat-pasword/</link>
		<comments>http://komunitascoemie.wordpress.com/2008/06/19/ngembat-pasword/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 16:08:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KOMUNITAS COEMIE</dc:creator>
				<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[hacking]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Sorry sebelumnya kalo tulisan ini terlihat sangat newbie dan lamer, karena hanya ditujukan pda para newbie. Bagi para master, silahkan boleh turut membaca tutorial yang membosankan ini. Hwekekeke,&#8230;.. Oiya, ini tutorial pertama saya di forum ini. Jangan jenuh, jangan bosan. Karena jenuh dan bosan adalah pangkal kebodohan (masa&#8217; siy??) Langsung saja, yang akan saya bagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitascoemie.wordpress.com&amp;blog=4020367&amp;post=1&amp;subd=komunitascoemie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sorry sebelumnya kalo tulisan ini terlihat sangat newbie dan lamer, karena hanya ditujukan pda para newbie. Bagi para master, silahkan boleh turut membaca tutorial yang membosankan ini.</p>
<p>Hwekekeke,&#8230;.. Oiya, ini tutorial pertama saya di forum ini. Jangan jenuh, jangan bosan. Karena jenuh dan bosan adalah pangkal kebodohan (masa&#8217; siy??)  Langsung saja, yang akan saya bagi di sini adalah memasang keylogger di kompie target. Mungkin sudah ada yang pernah menggunakan, tapi bagi yang belum tau, tidak ada salahnya saya turut berbagi. Oke?  Pertama-tama tentunya yang harus kalian persiapkan:</p>
<p>1. Ar-Max Keylogger, silahkan yang belum punya donlot di sini</p>
<div class="codetitle"><strong>Code:</strong></div>
<div class="codecontent">http://rapidshare.com/files/154781286/ar-max.rar</div>
<p>2. Kompie / laptop target, bisa juga kompie di lab kampus kalian.</p>
<p>3. Sedikit kecerdasan.  Setelah mendonlot Ar-Max, silahkan unrar dulu file ar-max.rar tersebut di folder kompie target.</p>
<p>Terserah mo di taruh dimana. Saya ingatkan, sebelumnya nonaktifkan Anitivirus terlebih dahulu, kalo perlu uninstal saja. Serius, soalnya anti virus luar sudah mendetek ar-max ini, he2&#8230; (gak ada gading yang tak retak). <img src="/key%20loger/viewtopic.php_files/lokasigq6.jpg" alt="Image" /> Lalu mulailah menginstal dengan mengklik &#8220;<span style="font-weight:bold;">ardamax_setup.exe</span>&#8220;. catatan: kalo kalian menginstalnya di kompie lab kampus, biasanya user hanya diberikan hak akses sebagai &#8220;guest&#8221; saja, bukan sebagai &#8220;administrator&#8221; tapi itu tidak masalah.</p>
<p>Begini contoh kasusnya:   maka klik aj lingkaran pada pernyataan &#8220;Run the program as UPKFE4-11/Mahasiswa&#8221; kemudian klik OK.  Lanjutkan, klik Next, kemudian ganti lokasi penginstalan bukan di drive C:, tetapi misalnya di drive D: di folder yang kamu buat sendiri lagi, kemudian INSTALL.</p>
<p>Setelah selesai terinstal, di pojok kanan bawah taksbar akan ada icon Armax. Klik kanan pada icon tersebut, kemudian klik &#8220;<span style="font-weight:bold;">Enter Registration Key</span>&#8220;.  Masukkan registrasi yang tersedia pada file <span style="font-weight:bold;">Serial.txt</span> Kemudian klik kanan lagi pada icon tersebut, dan klik &#8220;<span style="font-weight:bold;">Option</span>&#8221; untuk mensetting password dan settingan lainnya.</p>
<p>Agar tidak mencurigakan pemilik ataupun pengguna lain, kita hidden aja keylogger tersebut dengan emmilih &#8220;<span style="font-weight:bold;">Hiden Mode</span>&#8220;. Kit tinggal aj, atau pindah ke komputer lain dan tunggulah beberapa saat setelah beberapa user lain menggunakan komputer yang sudah kita pasangi keylogger.  Sekiranya sudah aman, dan tidak ada user lain menggunakan komputer tersebut, mari kita lihat log nya dengan menekan Ctrl+Shift+H (ataupun shortkey lainnya yang kita setting), masukkan password, klik kanan pada icon, dan pilih &#8220;<span style="font-weight:bold;">View log</span>&#8221; dengan gambar kaca pembesar di sebelahnya.  Tarraa,&#8230;. Hore,&#8230;.. Kita udah panen password dari korban ney, sekarang terserah apa yang akan kita lakukan dengan username dan password tersebut. Huahahahahaha&#8230;..</p>
<p>Tulisan ini sudah berlisensi GPL (Gak Pake Lisense). Silahkan disebarkan, ditulis ulang, atopun dimasukkin ke majalah tingkat nasional, hehe2&#8230;  Penulis tidak bertanggung jawab atas penyalahgunaan karena telah membaca tutorial ini.  Peringatan Pemerintah: &#8220;Keylogging dapat menyebabkan kanker (kantong kering), seerangan jantung mendadak, imnosia dan gangguan syaraf dan kelamin&#8221;. Hwe2,&#8230; just kiddin.</p>
<p>sumber :  yogyafree.net</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/komunitascoemie.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/komunitascoemie.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/komunitascoemie.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/komunitascoemie.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/komunitascoemie.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/komunitascoemie.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/komunitascoemie.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/komunitascoemie.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/komunitascoemie.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/komunitascoemie.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/komunitascoemie.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/komunitascoemie.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/komunitascoemie.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/komunitascoemie.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/komunitascoemie.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/komunitascoemie.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitascoemie.wordpress.com&amp;blog=4020367&amp;post=1&amp;subd=komunitascoemie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitascoemie.wordpress.com/2008/06/19/ngembat-pasword/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ad814ae9a5f88ec8e5d323b06cf88e4a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Komunitas Coemie</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
